Thursday, May 6, 2021

The Power of Words


 

 

Seperti senjata, bahasa memiliki kekuatan. Bedanya kekuatan bahasa adalah kekuatan yang halus, bukan kekuatan kasar seperti senjata api atau senjata tajam.  Meskipun halus, kekuatan bahasa sangat dahsyat, bahkan mungkin jauh lebih dahsyat daripada kekuatan senjata fisik.

 

Dalam bahasa Inggris ada proverb yang bunyinya “The tongue wounds more than a lance”.  Artinya lidah mampu melukai lebih parah daripada tombak.  Maksudnya kata kata yang pedas dan tajam bisa melukai hati orang.  Sakit hati itu bisa bertahan jauh lebih lama daripada luka fisik.  Itulah gambaran pemakaian bahasa yang tidak baik.  Orang bisa merusak suasana hati, menyakiti hati orang lain dengan bahasa baik lisan maupun tulisan.

 

Bahasa juga bisa dipakai untuk mengadu domba orang lain, baik individu maupun kelompok masyarakat.  Kita lihat sendiri masyarakat yang terbelah dua gara gara sebagian orang memakai kata kata yang tidak patut sehingga menyulut pertengkaran. 

 

Orang yang bijaksana memakai bahasa dengan baik untuk mencerahkan, menyemangati, mendidik, menunjukkan jalan yang benar, dan segala macam perbuatan baik.  Hasilnya juga insya Allah baik.  Lihatlah hasil pendidikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.  Anak cucu mereka berhasil mendapatkan pendidikan bagus dan bekerja di bidang yang memberi manfaat buat sesama.  Peran orang tua dan guru itu bisa berhasil karena memakai bahasa yang baik. Tutur kata mereka baik.  ajaran mereka baik sehingga anak didiknya tumbuh maksimal dalam kebaikan.

 

Jadi bahasa di tangan orang yang baik dan bijaksana akan memberi manfaat untuk masyarakat dan untuk dirinya sendiri dan keluarganya.  Sebaliknya di tangan orang yang tidak memiliki moralitas yang luhur maka bahasa akan destruktif.  Mereka akan menyakiti hati, menyulut pertengkaran, saling curiga dsb.

 

Pemakaiannya sudah jelas ada dua cara.  Lisan dan tulisan anda menunjukkan jati diri anda. Cepat atau lambat dampak itu akan kembali kepada anda.  Kebaikan akan kembali kepada anda.  Demikian juga keburukan.   Pilihannya terserah anda.

Sunday, January 3, 2021

Juara kata dan juara kumité

 


 

Keduanya berasal dari bahasa Jepang.  Kata adalah rangkaian gerak dasar dalam olah raga Karaté.   Seorang guru besar karaté pernah mengatakan bahwa kata is the grammar of Karaté.  Maksudnya kata adalah idealnya gerakan karaté.  Dalam olah raga karaté gerakan dasar  - pukulan, tangkisan, tendangan, sapuan, dirangkaikan menjadi kata yang dimainkan secara individual maupun beregu.  Fokusnya adalah pada kerapihan teknik.    Ada pakem tentang teknik.  Bagaimana menendang, memukul dll ada tata caranya yang rinci.

 

 

Dalam kejuaraan karaté, nomor kata juga dilombakan.   Maka juara kata memiliki gerakan yang sangat rapi. Teknik dasarnya sangat unggul - cepat, kuat, indah.  Apalagi ketika dimainkan dalam regu, biasanya tiga orang, nomor kata sangat memukau sehingga seringkali mendapat tepuk tangan meriah dari penonton.

 

 

Kumité adalah pertarungan.  Awalnya tidak ada klasifikasi berdasar berat badan, tapi sekarang sudah ada.  Ada aliran yang menganut ’full contact’, sehingga pukulan dan tendangan bisa mengakibatkan knock out, dan ada aliran yang  melarang full contact  untuk melindungi karatéka dari cedera.

 

 

Hampir tidak ada orang yang mampu menadi juara  kumité dan sekaligus kata.  Biasanya juara kata kalau ikut dalam kumité tidak akan menjadi juara meskipun tekniknya unggul.  Sebaliknya juara kumité tidak memiliki teknik serapi juara kata. 

 

 

Dalam dunia literasi ada kemiripan.   Sebagian penulis ibarat pemain kata dan sebagian lain seperti pemain kumité.   Para penulis buku perguruan tinggi mirip pemain kata.  Mereka harus mentaati setiap rincian aturan teknis.  Para penulis buku umum dan novelis mirip dengan pemain kumité.  Aturan teknisnya lebih longgar.   

 

 

Agaknya memang sudah sifat manusia untuk membanggakan dirinya atau profesinya atau karyanya.  Pemain kata merasa dirinyalah yang seharusnya patut dibanggakan.  Demikian juga pendapat pemain kumité.  Semuanya punya alasan.

 

 

Konon salah satu kriteria buku bagus adalah memiliki daya gugah.  Tidak ada yang salah dengan kriteria ini.  Hanya saja kita kesulitan menemukan tolok ukurnya.     Buku jenis apa, atau lebih spesifik lagi, judul apa buku di Indonesia yang paling tinggi daya gugahnya?  Bagaimana mengukurnya?  Apakah buku terlaris identik dengan memiliki daya gugah terkuat?  Walahualam.

 

 

Kalau menengok dunia politik, pernah ada buku yang menyebabkan pergerakan politik di Amerika Serikat.  Tepatnya buku berjudul “Uncle Tom’s cabin”.  Ini bukan karya ilmiah, tapi karya fiksi, yang tentu saja berdasarkan fakta juga.  Konon karya Kartini yang berjudul “Habis gelap terbitlah terang” juga menjadi pemicu gerakan kesetaraan jenis kelamin di Indonesia.  Ini juga bukan karya ilmiah.  Ini adalah kumpulan surat antara Kartini dengan seorang Belanda.  Sebagian orang mungkin susah melihat hubungan antara buku kumpulan surat dengan gerakan kesetaraan jenis kelamin.

 

 

Dulu di jaman Orba ada larangan terhadap karya Pramudya Ananta Toer. Barangkali didasari kekhawatiran akan penyebaran ideologi komunisme. Ternyata sekarang setelah bebas dibaca, para pembacanya tidak lantas menjadi komunis.   Jadi kecurigaan itu ternyata melèsèt.

 

 

Buku memang bisa memotivasi orang untuk berbuat sesuatu.  Meskipun demikian mengukur dampak sosialnya terbukti sulit.  Mungkin sudah ada teori atau metoda ilmiah untuk mengukurnya, tapi belum terbukti kehandalannya.

 

 

Buku juga bisa mencerahkan,  tapi lagi lagi ukurannya sangat samar.   Apalagi kalau diterapkan ke dalam masyarakat.  Setelah judul tertentu terjual sekian ribu lantas bagaimana pengaruhnya kepada masyarakat. Bagaimana mengukurnya masih kurang jelas.  Mungkin hanya pengalaman pribadi yang bisa menjelaskan pencerahan yang didapat.  Sesudah saya membaca judul tertentu saya jadi paham, atau menguasai, atau mampu melakukan sesuatu ketrampilan tertentu.  Buku ajar, atau modul atau apalah namanya.  Mereka memang memiliki lesson objective.   Lantas ada paparan, ada juga latihan lalu ada asessment.  Tapi seberapa jauh diserap pembaca ?  bagaimana mengukurnya?  Sedangkan metoda penilaian tidak mutlak akurasinya.

 

 

Ambil contoh di bidang bahasa asing.  ETS sendiri selalu memutakhirkan perangkat ujinya.  Awalnya mereka memiliki paper based test lalu berkembang menjadi computer based test dan sekarang menjadi internet based test atau yang lazim disebut TOEFL IBT.  Mengukur kemampuan orang dalam sebuah bidang saja ternyata sangat rumit.  Apalagi di banyak bidang.  Apalagi dampak sosialnya untuk masyarakat.  Judul apa yang paling mempengaruhi kemajuan ekonomi dan politik yang sudah dicapai masyarakat Indonesia saat ini?  Jawaban terbaik adalah tidak tahu.

 

 

Jadi buku jenis apa, apakah buku ilmiah, buku ajar, atau buku umum, referensi, atau novel yang paling berpengaruh, sangat susah diketahui karena banyak sekali faktor yang berpengaruh.

 

 

Apakah anda seorang pemain kata atau pemain kumité, agaknya memang  memiliki kelebihan dan kelemahan masing masing. Membandingkan keduanya sama susahnya dengan membandingkan antara musik dangdut dengan musik jazz.  Hanya perdebatan tiada ujung yang terjadi.

  

 

Di dunia pariwisata mirip juga kejadiannya.  Di sana ada tour leader dan pramuwisata yang mirip seperti pemain kata dan kumité. Mana yang lebih baik, jadi perdebatan abadi.

 

Bagaimana gagasan anda?

Sunday, December 13, 2020

Year-end promo.

 At the end of the year don't miss the special price for my ebooks at your favorite ebook stores.

https://books2read.com/u/mdnqlE

https://books.apple.com/us/book/id1544277910




Tuesday, December 1, 2020

Ikuti kata hatimu.

 

 



Steve Jobs menyarankan kita mengikuti kata hati, tapi dia tidak menjelaskan kondisi hati.  Nah di dalam Al Qur’an ada gambaran duapuluh macam hati, ternyata hanya delapan saja yang baik dan sehat, sisanya kurang baik.   Hanya hati baik, bersih dan sehat saja yang mampu menerima bimbingan Allah swt.  Hati yang buruk tentu tidak mampu menerima panduan wahyu Allah swt.  Hati yang buruk menerima bisikan setan.  Maka pastikan dulu hatimu baik, bersih dan sehat agar dia mampu menerima, memahami wahyu Allah swt.  Kalau hati sudah terbimbing oleh wahyu Allah swt maka dia akan memberi bisikan yang baik, bisikan yang berdasarkan panduan wahyu Allah swt.


Wednesday, September 16, 2020

Edutravel to Indonesia.

Edutravel to Indonesia

 

Today we still face a problem of travel due to the Corona pandemic.  In normal condition we can combine education and traveling.  One of attractive destination is Indonesia where you can find beautiful nature and ancient culture.   Last year millions of foreign tourist came to Indonesia to visit the diverse culture of Indonesia and its beautiful nature. In my experience as a tourist guide I used to teach them a little bit Indonesian language.

Visiting beautiful places and learning a new language is an amazing experience for many people.  Unfortunately we cannot do it now.  We have to stay home to avoid the Covid 19.  That is why I write a book to help you learn Indonesian language.  The book is very different from other language book because I use the Indonesian setting to present the lessons.  It is organized into many chapters.  Each chapter describes a particular destination. So  it is like a story of Java-Bali Overland tours.


The book is available in your favorite bookstores.  Don’t miss it. Get it here : https://books2read.com/u/mlaEV9                   




Saturday, July 18, 2020

Wirogo, wiromo dan wiroso.



oleh 

Bambang Udoyono


Dalam joged Mataram dikenal prinsip wirogo, wiromo dan wiroso.  Ini menunjukan tingkatan penguasaan tarian.  Di tahap pertama penari baru belajar wirogo alias teknik gerakan tari.  Di tahap selanjutnya wiromo artinya irama.  Di sini dia belajar menyatukan gerakan raganya dengan irama musik pengiringnya.  Tatkala gerakannya sudah menyatu terciptalah keindahan tari yang memikat.  Tahap tertinggi adalah wiroso, artinya roso, atau perasaan.  Di tahap ini penari sudah mampu menyatukan gerakan raga dengan segenap jiwa raganya. Dia sudah mampu menghayati secara total.  Maka yang menari bukan hanya raganya tapi juga jiwanya.  Jika sudah sampai tahap ini maka keindahannya sudah sempurna.  Tariannya akan memilki greget atau enerji.  Penonton akan terpesona.  Dia sendiri akan sangat menikmati seninya.   Tepat sekali dalang kondang almarhum Ki Narto Sabdo ketika mengatakan ‘kinaryo langen pribadi’ yang artinya menghibur diri sendiri.  Jadi pelaku seni itulah yang paling menikmati seninya.  Tapi karena sudah punya greget maka orang lain tertarik.  Dia sudah punya magnit.
Saya yakin prinsip ini bisa juga diterapkan dalam kegiatan menulis.  Di tahap awal penulis masih berfokus pada teknik menulis.  Setelah menguasainya maka penulis naik ke tahap selanjutnya yaitu menemukan irama atau keindahan menulisnya.  Tahap tertinggi tercapai manakala penulis sudah mampu menghayati total, menulis dengan segenap jiwa raganya.  Di tahap ini karyanya sudah memiliki greget, atau enerji.  Pembaca akan merasakan pesonanya.  Ada keindahan, ketedasan, ketuntasan, ada kekuatan yang mencerahkan. Pembaca akan terhipnotis dan akan ada merasakan manfaat buku yang dibacanya.

Namun karena orang tidak memiliki greget pada semua bidang, maka seorang penulis harus rajin mengeksplorasi di mana, di bidang apa gregetnya jalan.  Dia harus berlatih menulis di berbagai bidang yang diminati.  Nanti akan terasa di mana enerjinya mengalir.  Kalau anda sudah tidak menyadari waktu berlalu maka artinya anda sudah mencapai tahapan ‘flow’. Greget anda sudah jalan.     Indikator lain misalnya anda sedang asik menulis anda tidak mendengar keluarga anda memanggil. Kalau sudah begini mungkin anda sudah sampai pada wiroso. Pokoknya jelajahi banyak bidang nanti anda akan menemukan bidang, topik, tema yang membuat greget anda mengalir lancar. 

Sunday, June 7, 2020

Story telling menurut tiga narsum, Catatan Kagama Menulis V.




Di awal Juni 2020 ketika sedang berselancar di FB saya menemukan sebuah maklumat menarik di FB group Kagama.  Ada flyer yang memberitahu akan ada acara Kagama Menulis yaitu acara training menulis story telling.   Ketika membaca keterangannya  saya semangkin tertarik lagi karena narsumnya sudah punya nama baik.  Ada tiga narsum.  Pertama Budi Setyarso, pimred koran Tempo.  Kedua Maryoto wartawan Kompas dan ketiga Nursodik Gunarjo, penulis memoir lucu “The Story of Gondes” dan “Gondes Forever”.    Tanpa keraguan sedikitpun saya mendaftar.


Pada hari Sabtu tanggal 6 Juni 2020 jam 13.30 saya sudah duduk manis di depan laptop.  Di masa krisis Corona ini saya sudah berulangkali mengikuti webinar, meeting, online training, virtual tour dsb jadi saya sudah akrab dengan cara baru ini.  Namun kemarin ketika saya join meeting di Zoom saya harus menunggu agak lama.  Barangkali saking banyaknya perserta sehingga host perlu waktu lebih panjang daripada biasanya untuk menerima saya.  Ya wis tak tinggal maksi dulu.  Habis maksi sudah mendekati jam dua siang barulah saya bisa masuk ke ruang meeting.  Ternyata pesertaya memang banyak, ada 320 orang lebih partisipan.


Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berbasa basi sejenak mulailah acara intinya.  Moderatornya ada dua, Pak Hendry Prasetyo sang selebrity di FB group Kagama yang kondang karena suka posting Tiktokan yang lucu lucu.  Moderator kedua pak Elang.  Moderator pertama sudah luwes membawakan acara. Dia pasti sudah terbiasa membawakan acara publik seperti ini.  Moderator kedua tidak mengecewakan meskipun dia masih harus berlatih menata suaranya. Masih terlalu banyak jeda waktu yang tidak perlu.  Jadi pengelolaaan waktunya perlu diperbaiki.  Pak Hendry lantas mempersilahkan pemateri pertama.


Budi Setyarso, pimred koran Tempo tampil dengan kalem tapi mantap.  Dia mampu membuat tampilan visual yang bagus sekali.  Banyak foto yang memukau disertai teks singkat dan efektif.  Narasinya juga efektif meskipun dia tidak memakai teknik vokal yang canggih.  Jadi kombinasi antara content dan teknik presentasinya mantap sekali.  Audiens juga banyak memuji.
Dia memaparkan teknik story telling sesuai profesinya sebagai wartawan. Pertama menurut Budi penulis harus memilih angle (sudut pandang) terbaik untuk ceritanya.  Kemudian prinsip pokok adalah 5 W + 1 H yaitu who, when, what, where dan how.  Cerita harus ada tokoh utamanya (who), ada tempat kejadiannya (where), harus jelas kapan kejadiannya (when), apa kejadiannya (what) dan bagaimana terjadinya (how).     Kemudian cerita memiliki tiga bagian.  Pertama adalah lead.  Ini adalah paragraf pembuka yang harus menarik.  Bagian inilah yang menentukan nasib cerita itu, apakah akan dibaca atau tidak.  Orang sibuk pasti akan memilih cerita yang menarik, yang relevan dengan mereka. Maka alinea ini harus menarik.  Di bagian ini 5 W +1 H sudah harus ada.  Tapi harus singkat agar orang tidak bosan.  Dia sertakan juga contohnya dengan sebuah alinea berita tentang seorang Papua yang mampu memanggil ikan. Contoh itu memang sangat bagus.  Ia mampu membangkitkan minat pembaca.


Bagian kedua adalah isi, paparan utama, dari cerita.  Bagian ini harus memakai kalimat efektif, yang disarankan pendek saja. Dia sarankan hindari kalimat panjang.  Tujuannya agar mudah dipahami.  Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mudah dipahami semua kalangan.  Bukan tulisan yang bikin pusing. Di bagian ini Budi tidak memberi contoh mungkin karena panjang.

Bagian ketiga adalah penutup.  Bagian ini bisa singkat saja tapi harus tetap lengkap.  Bagian ini harus menuntaskan paparan di bagian sebelumnya.  Budi tidak menganjurkan ada penutup yang menggantung, yang menyisakan pertanyaan.  Misalnya dengan kalimat, nanti sejarah yang akan mengungkapkan dsb.


Budi memberi contoh dengan tulisannya sendiri di Tempo tentang kematian Munir.   Contohnya singkat saja tapi sangat kuat.  Isinya keterangan tentang kondisi Munir yang meninggal ketika sedang berbaring di lantai pesawat yang sedang terbang menuju Belanda.  Hebatnya alinea itu bisa menimbulkan kesan betapa kejamnya si pembunuh.


Di akhir paparannya Budi memberi latihan.  Dia meminta kami menulis cerita berdasarkan sebuah foto. Ada sebuah foto tiga orang perawat yang sedang duduk bersandar di dinding sambil ketiduran.  Mereka masih memakai alat pelindung diri lengkap.  Dia minta tulisan dikirim via email dan dia berjanji akan memberi komentar dan masukan pada beberapa tulisan.

Dia juga menjawab beberapa pertanyaan.  Salah satunya adalah pertanyaan tentang SARA.  Menurut dia kita tidak usah menutupi masalah ini karena bisa jadi bahaya kalau berpura pura tidak ada masalah. Jadi ditulis boleh asal jangan dengan bahasa yang membakar emosi orang.


Pemateri kedua adalah Maryoto, seorang wartawan Kompas alumni TP UGM. Dia memaparkan story telling juga dengan banyak foto yang cukup bagus.  Sayangnya dia tidak memberi teks sedikitpun pada foto foto tersebut.  Dia memang memberi narasi tapi dia masih harus berlatih lebih giat agi untuk menata suaranya agar tidak monoton.  Saya jadi ingat pelajaran teknik mengelola intonasi agar paparan kita tidak membuat audiens mengantuk.  Situasi diperburuk dengan munculnya suara mendengung dan bergema.  Bahasa tubuhnya juga datar saja, tanpa ekspreso,  eh ekspresi. Di chatting banyak audiens yang mengeluhkan kualitas suara.  Waktu dia bicara ini pas dengan saat solat asar sehingga banyak yang memilih meninggalkan acara sejenak untuk solat.  Saya juga mengutamakan solat dulu.  Seusai solat ketika saya kembali masalah suara ini belum teratasi.     Banyak pertanyaan belum terjawab mungkin karena pengelolaan waktu yang masih perlu ditingkatkan lagi.

Di sesi terakhir tampil penulis cerita lucu Gondes, pak Nursodik Gunarjo.  Paparannya di awal adalah motivasi menulis. Menurut dia apapun bisa ditulis, tidak perlu peristiwa besar.  Dia ambil contoh cerita memoirnya.  Apa yang dia ceritakan adalah peristiwa biasa, bukan peristiwa besar yang mengguncang dunia.  Kejadian biasa bisa saja menjadi tulisan menarik asal ditulis dengan baik. Nursodik mengibaratkan penulis seperti seorang chef yang harus meracik bahan bahan menjadi makanan yang enak.  Sayangnya pak Gondes ini kurang rinci memaparkan bagaimana tahapan menulis yang baik dan lucu.  Jadi teknisnya agak kurang tajam.  Hanya berhenti sebatas memotivasi saja agar menulis menarik tanpa resep bagaimana menciptakan tulisan yang baik itu.  Gaya bertutur lisan mas Gondes juga tidak selucu tulisannya, meskipun dia sudah mencoba melucu.  Dia juga masih harus banyak berlatih olah suara agar mampu membuat tekanan suara, jeda dan lain lain semangkin baik dan menarik.


Secara keseluruhan acara Kagama Menulis V kemarin berjalan baik.  Semuanya lancar.  Semua materi dipaparkan dengan lumayan sesuai dengan rencana.  Pemateri bintang kemarin adalah Mas Budi Setyarso yang di CV nya disebutkan alumi SMA Magelang, sayang tidak disebutkan SMA mana.   Panitia patut diapresiasi dengan kerja bagusnya ini.  Moderator juga sudah bagus terutama pak Hendri Prasetyo yang alumni Kehutanan UGM.  Pesertanya juga nampak antusias menanyakan berbagai hal kepada para pemateri.  Akan lebih baik lagi kalau peserta yang diberi kesempatan tampil bertanya secara lisan bukan hanya yang cantik saja. Semoga lain kali ada lagi acara seperti ini tanpa harus menunggu sirnanya Corona dengan menampilakan narsum penulis lain untuk meluaskan wawasan kita.  





Friday, June 5, 2020

You are what you read.




Anda dibentuk oleh bacaan anda.  Mengapa? Karena bacaan itu mempengaruhi pikiran. Lalu pikiran mempengaruhi ucapan dan perbuatan.  Kemudian tindakan akan jadi kebiasaan.  Nah kebiasaan akan menentukan kemampuan kerja anda. Akhirnya kemampuan kerja akan menentukan nasib anda.  Jadi pilihlah bacaan yang membuat nasib anda jadi baik.  Jika anda ingin keluarga anda bahagia, maka pilihlah bacaan yang mendukung tercapainya tujuan itu.  Buku apa misalnya ?  Buku berikut ini contohnya. 
  
Kalau bacaan anda buruk, maka pikiran anda akan buruk dan akibatnya berantai seperti di atas.  

Saturday, April 11, 2020

D+D=R&R


D+D = R&R
Bambang Udoyono


Barangkali anda membatin apa arti judul di atas.  Mungkin anda membatin kok ada miripnya dengan merek busana papan atas.  Atau mungkin anda mengira itu adalah sebuah persamaan.  Tepat sekali kalau anda menganggapnya sebagai sebuah persamaan.
Judul itu memang mirip dengan persamaan matematika yang diterapkan di berbagai bidang.  Salah satunya di bidang parenting ini.  Bagaimana mungkin?  Apa hubungannya dengan parenting?  Mari kita simak.
Persamaan di atas bisa diuraikan demikian:
Dedication + discipline = reward and recognition.
Dedication atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pengabdian, adalah komitmen total pada sesuatu hal yang dikerjakannya.  Jadi kalau seorang siswa atau mahasiswa artinya dia harus sangat serius, sangat total dalam belajar.  Buat orang yang sudah bekerja artinya bekerja dengan sebaik baiknya, memberikan upaya terbaiknya untuk pekerjaannya.   
Discipline sudah terserap dalam bahasa Indonesia menjadi disiplin, (bukan diselipin) artinya mematuhi tata tertib.  Kalau pelajar / mahasiswa ya harus rajin belajar setiap hari di sekolah dan di rumah.  Karyawan ya harus bekerja sesuai aturan waktu, tata cara dsb.
Reward dalam bahasa Indonesia artinya ganjaran atau hadiah atas apa yang sudah diupayakan.  Jadi kalau orang sudah bekerja dengan sangat disiplin dan memiliki dedikasi yang tinggi maka dia akan menerima rewardnya, atau hadiahnya.  Seorang pelajar / mahasiswa yang sudah melakukan D+D akan mendapat nilai tinggi dan mendapat ilmu selain ijazah.  Seorang karyawan akan mendapatkan penghasilan berupa uang dsb.
Recognition  artinya pengakuan.  Selain itu, hasil dari D+D adalah masyarakat akan mengakui keunggulan kita.  Lagipula ajaibnya, pengakuan masyarakat itu akan diberikan kepada seorang siswa / mahasiswa tanpa melihat rapot, nilai atau ijazahnya.  Jarang sekali kan kita memamerkan nilai di sekolah apalagi rapot dan ijazah.  Namun masyarakat mengakui bahwa kita memiliki keunggulan dalam satu bidang ilmu tertentu, atau ketrampilan tertentu.    Pengakuan ini dimulai dari lingkungan terdekat. Di kelas misalnya, pasti semua murid sudah paham kepada siapa bertanya tentang bahasa Inggris dan kepada siapa harus bertanya soal matematika.  Artinya dalam waktu singkat, beberapa minggu saja, pasti semua anak memberikan pengakuan kepada yang terunggul di bidang tertentu.  Dari lingkungan terdekat pengakuan itu menyebar ke masyarakat dari mulut ke mulut.
Demikian juga untuk karyawan.  Sejak awal sebenarnya semuanya saling memantau kinerja.  Bersama berjalannya waktu akan terlihat siapa yang paling maksimal memberikan D+D.  Setelah terlihat oleh teman dan atasan maka akan jelas siapa yang layak naik ke jenjang kepeminpinan. Namun jangan kaget jika nanti ada pihak yang merasa akan kalah lalu melakukan upaya mencegah. Bukan untuk kepentingan umum tapi untuk memenuhi ambisinya sendiri.  Tapi ini kita bahas lain kali saja.  Mari kita fokus ke topik utama.
Jadi secara umum bisa terlihat polanya.  Siapa saja yang memberikan dedikasi dan disiplin terbaik maka dia akan menerima reward dan pengakuan terbaik juga.  Pertanyaan berikutnya, apa hubungannya dengan parenting?  
Nah setelah pola itu dipahami, menjadi jelas bahwa tugas orang tua adalah membantu anak anaknya melakukan D+D secara maksimal. Orang tua harus menanamkan disiplin kepada anak anaknya.  Satu hal penting yang harus dipahami oleh orang tua adalah, ada dua macam disiplin yaitu disiplin intriksik dan disiplin ekstrinsik.  Apalagi itu?  Keduanya sudah saya jelaskan di dalam buku saya yang berjudul “Membangun keluarga bahagia dengan iman, cinta dan wacana”.  Di sana dipaparkan kiat membangun disiplin untuk anak anak tanpa menimbulkan efek samping yang buruk.
Orang tua harus memantau perkembangan anak anaknya dalam melaksanakan D+D ini agar selalu baik.  Setelah hal itu dicapai, maka orang tua tidak usah kuatir lagi karena bisa dipastikan anak anaknya akan mendapatkan R & R yang setara.  Apabila D+D sudah maksimal maka pasti anak anaknya akan mendapat R&R yang maksimal juga.  Selain nilainya akan bagus, ilmunya juga akan bagus. Mereka akan mendapat sekolah yang bagus dan insya Allah pekerjaan yang bagus juga.
Saya perlu menegaskan hal ini karena saya lihat orang tua Indonesia melakukan kesalahan.  Di mana kesalahannya? Bukankah ini hal sederhana saja? Apa susahnya?
Mereka mungkin memang sudah lama paham tapi sayang kebanyakan orang terbalik dalam menerapkannya.  Mereka salah fokus.  Salah fokus bagaimana?  Mereka memfokuskan pada R+R.  Mereka menuntut anak anaknya mendapatkan nilai tinggi dan peringkat tinggi saja.  Akibatnya banyak orang memiliki gelar sarjana, tapi tidak menguasai ilmunya. Banyak orang berjuang mencari hasil tanpa mementingkan prosesnya. Dalam bahasa Jawa ada peribahasa ‘Gelem nangkane ora gelem pulute”. Artinya mau nangkanya tapi tidak mau getahnya.  Mau enaknya  tapi tidak mau bersusah payah berjuang.
Sedangkan ilmu hanya bisa dikuasai dengan belajar keras.    Tidak bisa didapatkan dengan santai santai saja. Tidak bisa juga dengan membeli nilai. Tidak bisa dengan menyuap.  Demikian juga pekerjaan, kedudukan, dan jabatan. 
Kalau D+D sudah kita terapkan bersama anak anak kita maka insya Allah kita tidak akan melewati jalur yang salah.  Kita tidak usah menyuap, menyogok dsb.
Jadi mari kita pastikan anak anak kita memiliki D+D yang maksimal,  agar mendapat R&R yang maksimal juga.
Lain kali kita sambung lagi dengan bahasan yang beda lagi.





Monday, January 6, 2020

Mengorangtuai orang tua




Kebanyakan orang ketika memasuki usia limapuluhan tahun ke atas sudah memiliki anak anak yang sudah dewasa.   Mereka akan menikah dan memiliki keturunan sendiri.  Anak kita sudah menjadi orang tua dari anak anaknya. Maka posisi kita berkembang menjadi kakek dan nenek.  Di sinilah muncul pertanyaan : bagaimana peran ideal kita sebagai kakek dan nenek?
Untuk menggambarkan hubungan antara kakek nenek dengan anak cucunya, saya ingin memakai ibarat hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam sistem pemerintahan yang menganut otonomi daerah, bukan yang sentralistik.   Dalam sistem pemerintahan yang otonom ini daerah memiliki kewenangan memutuskan sendiri banyak hal teknis yang khas daerahnya.  Pemerintah pusat mendikte hanya dalam beberapa hal pokok saja.  Demikian juga dalam keluarga. Kakek nenek ibarat pemerintah pusat yang tidak mendikte keputusan teknis keluarga anak cucunya.
Satu hal pokok yang saya haruskan adalah agama.  Hal ini harga mati yang tidak bisa ditawar.  Jadi saya mengharuskan anak anak saya mengajarkan kepada anak anaknya agama Islam.  Mereka harus menjadi contoh buat anak anaknya.  Sedangkan soal teknis parenting saya tidak akan mendikte.  Saya hanya memberi masukan tapi tidak akan mendikte secara rinci.  Saya serahkan keputusan teknis rincinya kepada mereka sendiri karena saya percaya mereka sudah mampu membuat keputusan terbaik untuk anak anaknya.  
Meskipun demikian hal ini lebih mudah diomongkan daripada dilakukan karena naluri kita sebagai orang tua masih dominan.  Tidak jarang kita ingin mendikte anak harus melakukan ini dan itu.  Jadi saya dan istri selalu saling mengingatkan untuk tidak terlalu jauh campur tangan dalam hal teknis.  Itulah sebabnya sebaiknya pasangan yang sudah menikah tinggal terpisah.  Boleh saja bersebelahan rumah tapi menjadi unit rumah tangga yang mandiri.
Ketika berkunjung ke rumah anak atau anak berkunjung ke rumah kita maka prinsip ini harus selalu dipegang.  Kita harus berdiskusi dengan anak soal pola asuh misalnya.  Tujuannya untuk kordinasi agar tindakan kita sebagai kakek nekek tidak kontra dengan policy yang sudah dia tetapkan untuk anak anaknya.  Jadi agar sinkron langkah kita dengan langkah anak kita dalam mendidik cucu kita.
Kita sebagai kakek nenek harus legowo apabila anak kita menganut pola asuh yang berbeda dengan apa yang pernah kita terapkan kepada mereka dulu.  Demikian juga dengan semua keputusan teknis yang mereka ambil, kita harus menerima dengan lapang dada.  Misalnya di mana mereka tinggal, apa profesi yang mereka pilih dsb.  Percayaan saja kepada mereka. Serahkan saja keputusan itu kepada mereka.  Dengan demikian mereka akan mampu berkembang menajdi pengambil keputusan yang baik.  Tentu saja kita masih bisa berperan sebagai pemberi masukan.  Tapi bukan sebagai pengambil keputusan atas masalah teknis mereka.
Agar tidak ada benturan antara tindakan kita dengan policy anak anak kita maka perlu dialog secara terus menerus.  Kita perlu menciptakan suasana keterbukaan di mana mereka bebas mengutarakan pendapatnya dan opininya.  Hal ini mudah saja dilakukan kalau sudah sejak awal kita menerapkannya kepada anak anak kita. 
Semuanya berakar di masa lalu.  Jadi ketika anak anak kita masih muda kita sudah harus menerapkan pola asuh yang demokratis.  Bagaimana gambaran pola asuh ini sudah saya tuliskan secara gambalnag dan rinci dalam buku saya yang berjudul ‘Membangun Keluarga bahagia dengan iman, cinta dan wacana’, yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, tahun 2019.  Buku ini tersedia dalam dua versi, buku cetak basa dan ebook alias buku elektronik. 
 

Wednesday, December 11, 2019

The Sultanate of Yogyakarta in a time of uncertainty






            The Sultanate of Yogyakarta is located in the southern part of the Island of Java, Indonesia overlooking the Indian Ocean in the south.  It is surrounded by the province of central Java in the north, east and west.  Its territory is not large.  It is just a tiny kingdom but it is an important province in Indonesia.  Its land is very fertile and very productive. The most well known agricultural product is snake fruit also known as Zalacca zalacca in Latin.          It is also a popular tourism destination because there are ancient temples, nice view of Merapi volcano and living Javanese tradition like Batik and traditional dancing.   Yogyakarta is a student city. There are many good schools and university there.
Lately the sultanate has been exposed by the press and in the focus of public attention in Indonesia because of its political problems.   What’s seems to be the problem?  Let’s take a look at the following facts.

The History

The Sultanate of Yogyakarta was born as a result of political conflict in the kingdom of Mataram in the 17th century.   At the time the capital of Mataram was in Surakarta, central Java.  The ruling king Paku Buwono was not fully independent.  He was highly influenced by the Dutch East Indies Company that dominated and exploited the kingdom.  Prince Mangkubumi, the crown prince of Mataram, was not content with the situation.  He wanted Mataram to be free from colonial domination.  So he became a threat to colonial ruler.  Then the Dutch East Indies Company tried to eliminate him from Mataram.  That’s why the prince and his followers rebelled.  A long armed conflict between King Paku Buwono who was backed by the Dutch Indies company on one side versus Prince Mangkubumi on the other side took many lives.  After many years of fighting a peace settlement was reached in 1755.  An agreement was signed in the village of Giyanti that divided the kingdom of Mataram into two kingdoms.  King Paku Buwono remained the ruler of Surakarta meanwhile prince Mangkubumi became the ruler of Yogyakarta.  He became Sultan Hamengku Buwono I. 
When the British army occupied Indonesia in the 19th century the Sultanate of Yogyakarta was attacked in 1855.  Sultan Hamengku Buwono II was exiled in Sri Langka and the kingdom was once again divided into two.  Prince Noto Kusumo from the Sultanate became Paku Alam.  He ruled over a part of the Sultanate that since then on was called Paku Alaman.
In the first half of the 20th century an upheaval of freedom movement in Indonesia got a golden opportunity when the Japanese military was defeated in the World War II.   Sukarno and Hatta proclaimed Indonesian independence on August 17, 1945 when there was a vacuum of power following the defeat of Japanese armed forces to allied powers.  Sukarno became the first president of Indonesia and Hatta became the first vice president.  Soon they got popular support from almost all Indonesian since they had prepared the movement long before the proclamation.  The local rulers, the nationalist and the Muslim organizations were behind them.  Only the communist party was reluctant to support them.  Sultan Hamengku Buwono IX was no exception.  On September 1945 he made a statement that the sultanate of Yogyakarta fully support and become a part of the Republic of Indonesia.  He further stated that Yogyakarta would become a special province.  The executive power in Yogyakarta was in the hands of Sultan Hamengku Buwono IX and Prince Paku Alam VIII as the governor and vice governor.  Since then on leadership of the province is always in the hands of Sultan Hamengku Buwono and Prince Paku Alam.  The office of governor is inseparable with the traditional leadership. Today the governor is Sultan Hamengku Buwono X and the vice governor is Prince Paku Alam X.

The root of political problem

            The Reform movement that began in 1998 changed everything.  The movement was directed toward despotic ruler of Suharto.  His absolute power was a perfect breeding ground for corruption, collusion and nepotism.    The intellectuals, students, political activists organized a rally protest.  Finally following bloody incidents in Jakarta in May 1998 Suharto resigned after thirty two years in power.  The following year Indonesia successfully held a democratic general election.  After that the next democratic elections were held again in 2004 and 2009, and 2014. 
            The idea of democracy is widely supported by the Indonesian people from all levels.  Consequently the wind of democracy also sweeps Yogyakarta.  The SBY (administration) government proposed a new law on the local government of Yogyakarta.  The law stated that the governor of Yogyakarta must be elected by the people and it is not hereditary anymore.  On one occasion the president stated publicly that the local leadership must change.  Surprisingly the people of Yogyakarta refused the law.  They do not want any local election for a governor.  They organize rally protest and some people even threatened to separate from Indonesia.
              The social condition in Yogyakarta is really unique.  It is one of the best places to study in Indonesia.  Gadjah Mada University is the best University in Indonesia where Amin Rais, the prominent leader of reform movement teaches political science.  Besides GMU, there are many good schools in Yogyakarta.  Therefore community of students is an important element of the Yogyakarta society.  Common people, however, are the majority there.  They are not well educated.  For them primordial bound is still very important.  Traditional Javanese values are still dominant among them including the idea of monarchy.  So for them kingdom is a must.  Election to elect a new governor is beyond their imagination.  Any violation to traditional values means a serious threat for them that will invite hostile reactions.

The weaknesses of a monarchy and the need for a professional local leader.

            These people do not understand and they do not want to understand the weaknesses of monarchy and the benefit of democracy.  They don’t trust central government anymore.  Any efforts to tell them will surely fail.    For them monarchy is the identity of Yogyakarta and it is nonnegotiable. 
            The neighboring kingdom in Surakarta once had two kings. When the former king Paku Buwono XII passed away the royal family split into two groups.  One group wanted Prince Mangkubumi to become a new king while the other group wanted Tejawulan to succeed his father.   As a matter of fact the majority supported Mangkubumi as King Paku Buwono XIII.  He controlled the palace of Surakarta.  But still some royal family members supported Tejawulan.  For some time there were two kings there although finally Tejawulan gave up.  It is clear that in any monarchy the struggle for power may come up with emergence of two kings.  There is no guarantee that it will never happen in Yogyakarta.    In such a situation who will become governor if it happens in Yogyakarta?
            A king may pass away any time.  Sometimes a king passes away when his eldest son is still very young.  Let’s say he is still a student.  It means that he is not capable to become a governor.  If he has to work as a governor, he will not be able to do a good job.  There was a precedent in the 19th century when the new king was a kid.  As a consequence Prince Diponegoro became the real ruler because he was the most influential prince.
            Patriarchy is another strong value in Yogyakarta.  Men are considered to be better leader than women.  The present Sultan has no son.  So when the time has come for his daughters to become a new king then there is a conflicting traditional value.  Again there is no guarantee that the conflicting values have no effect at all.  Most probably people will argue and even there will be conflict.

The present sultan insisted his daughter becomes his predecessor.

In April 2015 Sultan Hamengku Buwono X made a royal decree stating that his daughter would be his successor as the next king of Yogyakarta.   He said he had received a kind of god’s and ancestor’s guidance to appoint his daughter as his successor.  Soon the decree got hostile reaction from the royal family.  His brothers who hold high ranking positions in the palace hierarchy opposed his decree.  They said it is against the custom and tradition of the Mataram dynasty handed down from generation to generation for hundreds of years.   
Then on December 2015/January 2016 Sultan Hamengku Buwono X once again made a statement confirming the previous decree.  He insisted that his decision is final and whoever opposed him must leave the land of Mataram.  His brothers who were invited to the event refused to attend and stated that they opposed the decree.
In Javanese tradition there is no gender equality. Man is considered to be the leader of woman. Over the past four hundred years the kings of Mataram (Yogyakarta and Surakarta) has been always male.  The idea of a female sultan is against the custom and tradition so it is totally unacceptable for the royal family and the public.  The opposition will no doubt receive popular support. If Sultan HB X insists and so do his brothers, then there will be escalated tension. The royal family will not endorse the new female sultan and there is a possibility that they will decide someone else as a new sultan.  If there are two sultans while the Indonesian law states that the sultan is the governor of Yogyakarta, then Jakarta will face a problem to decide who will become the governor.  A mistake will invite more complicated problem in the special province.

The king is too old.

In any kingdom including Yogyakarta there is no limit as to the terms of a sultan or king. He may be still in power although he is very old. In this case there is no guarantee that he is still capable of working as a chief executive who have to make important decisions for his kingdom.  A leader’s competency is clearly seen on the quality of his decisions. Good decisions will make his country develop rapidly while bad decisions will break his country’s potential.  In certain occasions, for example in a situation when he is not sure that his predecessor will be capable to rule or in a situation when he is in doubt whether there will conflict after he leaves office, may trigger him to stay in power as long as possible.

The king is incapable, incompetent.

Javanese custom and tradition do not have any requirement for a sultan (king) except he must be the eldest son of a prameswari (favorite wife).  There is no requirement as to his competency.  As a result a new king or a crown prince might be someone who does not have any competency at all. The history of Mataram clearly indicated that many decisions had been made that led to deterioration of economic and political condition of the kingdom. It is hard to say that those decisions were made by a smart leader.

The king’s character is bad and erratic.

Since the only criterion to become a sultan is the eldest son of a prameswari, there is no requirement as to his character or personality trait.  That’s why there is a possibility that the eldest son has a bad character. He might be an erratic man who cannot avoid using his emotions and desire to make decision.  He will appoint people to important positions based on his likings. He will choose anyone he likes and he will kick anyone that he does not like. He does not care about competency.  Consequently his organization will not be able to operate to its maximum ability. In this case it is very hard for him to make rational decisions. His bureaucracy will not be able to execute his decisions well.  Finally the whole kingdom will get negative effect from his policies.  Economy will suffer from such policies and will deteriorate. So does other sectors such as politics, education and culture. In short a sultan who has a bad character is a disaster for his kingdom and his society.
            Those are extreme conditions that clearly expose the weaknesses of monarchy.  Not to mention that in most absolute monarchy there is no justice.  The system works for the royal family at the cost of the public.  The ruler will become burden for the people. 
            Since there is no trust to central government anymore, it is impossible for the central government to tell the people of Yogyakarta about these weaknesses.  It means that the person who tells them must come from Yogyakarta.  The people of Yogyakarta need a wise man that can do the job.  He must be capable to overcome wisely the delicate situation of conflict with central government.     Furthermore the local leader must be able to cope with problems of economics, global crisis, tourism, etc.  In short he must be a professional and wise leader.  Again there is no guarantee that all the descendants of the king will become a professional leader.
All those factors mentioned above clearly indicated that Yogyakarta needs a professional local leader.  He must be a king, wise, and well educated. He must have a strong leadership skill, have strong managerial skill, and a modern bright thinking of how to develop Yogyakarta.

The need for a wise national leader.

The problem is not only based on history but also on a statement by the president that the government will change the status of special province.  The statement of president in public is a shock for them.  It was a humiliation to their values, their tradition, their king and their pride.  The president ideally should talk persuasively to them before making a public statement.  The central government must prepare the mental psychological condition that supports a new idea rather than humiliating their values.  Today the public view on central government is negative.  They see central government as conqueror who does not understand them.
Indonesia needs a wise national leader to cope with the problem wisely.  He must be able to build trust first.   Then he must be able to help Yogyakarta find a solution to their leadership problem.   However with the present government busy with the economic and corruption problems it is unlikely that the government will come up with a wise decision on the issue of Yogyakarta.  The absence of firm and wise decision add further uncertainty to the future of Yogyakarta.  Buying time does not help to solve the problem.  It worsens the problem instead.

Uncertainty ahead.

The ideal condition is when there is a professional leader in Yogyakarta who has not only traditional legitimacy but also advanced skill to overcome problems of politics, economics and social.  This condition must meet with a good, professional leader in the central government.  Unfortunately these two factors are very hard to find.  We have only mediocre leaders in a fast changing world.  Therefore uncertainty is the only certain thing.