Thursday, February 7, 2019

Banjaran Durno





Tidak diragukan lagi bahwa Durna adalah salah satu nama wayang yang paling kondang.  Dia dikenal sebagai seorang pendeta yang berilmu tinggi tapi licik dan menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya.  Bagaimana kisahnya sejak muda sampai meninggal?  Sila simak terus lakon banjaran (biografi) Durna berikut ini. 

Masa muda


Durna adalah anak Resi Baratmadya, seorang pendeta berilmu tinggi dari Argo Jembangan.  Ibunya adalah seorang bidadari yang cantik jelita bernama Dewi Kumbini.  Maka dia diberi nama Kumboyono.  Di masa mudanya Kumboyono ini adalah seorang pemuda yang cerdas dan ganteng.  Gurunya adalah ayahnya sendiri Resi Baratmadya.  Saking terkenalnya sang resi memiliki banyak sekali murid dari berbagai negara. Salah satunya adalah Sucitro, anak raja Poncolo.
Kumboyono dan Sucitro merasa saling cocok sehingga mereka menjadi sahabat dekat.  Saking dekatnya hubungan mereka Sucitro an Kumboyono pernah berjanji akan saling menolong selamanya. Bahkan Sucitro pernah berjanji kalau dia jadi raja kelak maka Kumboyono akan diberi sebagian wilayahnya.  Sucitro ini juga seorang pemuda yang ganteng dan cerdas.  Maka dia mampu menguasai dengan baik semua ilmu yang diajarkan oleh gurunya dan dia mampu lulus dengan baik dan tepat waktu.  Setelah lulus Sucitro pulang ke Poncolo untuk mengamalkan ilmunya di sana.

Sahabat Sucitro musuh Drupodo


Sekian tahun telah berlalu.  Kumboyono sudah ditinggal mati ayahnya. Perguruan bapaknya sudah sepi ditinggalkan murid muridnya karena Kumboyono belum memiliki nama besar.  Akhirnya Kumboyono menganggur.  Suatu saat dia mendengar kabar bahwa Sucitro sudah diangkat menjadi raja  di Poncolo dengan sebutan Prabu Drupodo.  Harapan Kumboyono membesar lagi karena dia ingat dulu mereka pernah berjanji akan saling tolong menolong dalam keadaan susah maupun senang. 
Dengan semangat tinggi Kumboyono berjalan kaki menuju ke Poncolo. Berhari hari kemudian dia tiba di tepi sungai besar.  Kumboyono bingung karena dia tidak bisa berenang dan di sana tidak ada perahu. Dia lantas berucap barang siapa bisa membantunya menyeberang sungai besar itu kalau laki laki aka dijadikan saudara kalau perempuan aka dijadikan istri. Mendadak muncullah seekor kuda sembrani, yaitu kuda yang bisa terbang. Kuda itu lalu dia naiki untuk menyeberangi sungai besar tersebut. Ternyata kuda itu betina maka Kumboyono menikahi kuda sembrani.  Si kuda lalu hamil dan melahirkan anak laki laki yang diberi nama Aswotomo.  Tidak lama kemudian ternyata si kuda ini adalah seorang bidadari cantik jelita bernama Dewi Wilutomo.  Dia sedang menjalani hukuman dikutuk dewa menjadi kuda.  Setelah melahirkan habislah masa hukumannya sehingga dia harus kembali ke kahyangan.  Aswotomo lalu diserahkan kepada Kumboyono.
Kumboyono lalu meneruskan langkahnya menuju ke Poncolo.  Sampai di sana Kumboyono meminta ijin dan diterima menghadap raja.  Saking gembiranya bertemu teman lama Kumboyono lupa menerapkan tata krama protokol kerajaan.  Dia tetap memanggil dengan nama kecilnya Sucitro dan menempatkan dirinya sebagai sahabat lama.  Ternyata kedudukan sering membuat orang lupa daratan.  Prabu Drupodo tidak berkenan dengan sikap Kumboyono ini.  Dia merasa sudah tidak sederajat lagi dengan Kumboyono.  Dia jawab bahwa sekarang sudah tidak ada lagi Sucitro.  Sekarang dia adalah Prabu Drupodo.  Keadaan sudah berubah jadi semua orang harus menghormati dia.  Ketika diingatkan oleh Kumboyono bahwa mereka dulu sudah pernah berjanji akan saling menolong dan bahwa dia sedang membutuhkan pertolongan maka Drupodo mengingkarinya.  Drupodo malah mengusir Durno dari istananya.  Durno masih berupaya membujuk dengan tetap menempatkan diri sebagai teman lama. Drupodo kehilangan kesabaran dan emerintahkan anak buahnya memaksa mengusir Kumboyono.  saat itu hadir juga patih Gondomono.  Setelah terusir dari Ngestino dia lalu bekerja di Poncolo.  Gondomono memaksanya keluar.  Mereka bertengkar dan berkembang menjadi perkelahian.  Tapi ilmu Gondomono ternyata masih lebih tinggi.  Kumboyono dihajarm dianiaya sampai cacat.  Kumboyono yang dulu ganteng menjadi tidak ganteng lagi karena cacatnya.  Dalam keadaan luka parah dia dibuang dan ditolong oleh Sengkuni, patih Ngestino.  Dia dibawa ke Ngestino dan dirawat sampai sembuh.  Bahkan setelah mengetahui dia berilmu tinggi Sengkuni menawarinya menjadi guru besar para Kurowo dan Pendowo dengan gelarBegawan Durna.  Itulah sebabnya Durno meras aberhutang budi kepada Sengkuni dan keluarga Kurowo sehingga dia selalu taat kepada mereka.

Menjadi guru besar Ngestino



Begawan Durno mengajar ilmu perang kepada para Kurowo dan Pendowo. Salah satu kelihaiannya adalah ilmu panahan.  Di antara semua muridnya yang terbaik adalah Arjuno, penengah Pendowo limo.  Diajarkannya juga kepada Arjuno ini aji Sirwendo.  Ini adalah cara menyatukan kekuatan lahir batin untuk  membidik sasaran dalam panahan maupun dalam kehidupan. 


Dalam salah satu episode dicertakan sebuah sesi latihan memanah para muridnya.  Satu persatu mereka disuruh memperagakan cara memanah sasaran yang digantung di sebuah pohon, kemudian  sebelum anak panah dilepaskan mereka ditanyai apa yang terlihat dalam pikirannya.  Dursosono menjawab terbayang ayam panggang.  Durno marah dan berkata tidak usah dilepaskan anak panahnya karena percuma saja, tidak akan mengenai sasaran yang digantung dipohon. Kurowo juga salah semua jawabnnya.  Sampailah pada Arjuno.  Dia berkonsentrasi lalu mengangkat busur dan anak panah.  Ketika ditanya apa yang terbayang dia diam saja.  Sampai ketiga kali ditanya barulah dia mendengar lalu menjawab yang ada di pikirannya hanya sasarannya.  Durno menjawab kalau dilepaskan anak panah itu pasti akan mengenai sasaran.  Dia benar dan Arjuno membidik dengan tepat.


Suatu malam ketika mereka akan makan bersama Durno mematikan lampu sabil menyuruh mereka tetap makan.  Dia lantas bertanya apakah ada yang salah memasukkan makanan ke mulutnya. Dijawab tidak ada.  Kata Durno hal itu bisa terjadi karena tindakan itu diulangi setiap hari sehingga menyatu kehendak dengan gerakan raga.  Prinsip itulah yang harus diterapkan dalam latihan ilmu perang.      

        
Suatu hari ada seorang pemuda bernama Ekoloyo datang menghadap Durno.  Dia minta menjadi murid Durno karena dulu ayahnya adalah teman Durno dan Durno pernah berjanji akan menerima anaknya menjadi muridnya.  Durno keberatan karena salah satu syaratnya menjadi gubes di Ngestino adalah tidak boleh meneriam murid lain.  Dia harus mengajar khusus Pendowo dan Kurowo saja.  Tapi karena sudah berjanji maka Durno memberi jalan.  Dia disuruh bekerja sebagai tukang kuda.  Sambil mengurusi kuda dia dibolehkan melihat Durno mengajar.  Ekoloyo sanggup melaksanakan saran Durno.


Kemudian Durno suatu malam mengajak murid muridnya berburu di sebuah hutan di pinggir kota Ngestino.  Ketika mereka berburu mendadak anjing yang dibawa Arjuno mati.  Di badannya ada anak panah.  Arjuno kaget lalu bertanya siapa yang lebih lihai memanah daripada dia karena dia sendiri belum mampu memanah sasaran di dalam gelap.  Durno tahu itu pasti Ekoloyo.  Dia panggil Ekoloyo.  Setelah datang Ekoloyo diminta memberikan jempol kanannya agar tidak bisa memanah lagi.  Sebagai murid yang taat Ekoloyo sanggup tapi dia dendam kepada Durno dan berjanji kelak di dalam perang Baroto yudo akan membunuh Durno. 


Durno sebenarnya sangat sayang kepada Pendowo limo karena mereka adalah muridnya yang terbaik dalam prestasi dan sikapnya.  Dia tahu kalau Kurowo sering berbuat jahat tapi dia tidak berani menentang karena tidak mau kehilangan pekerjaan.  Dia tidak mau lagi menderita seperti saat menganggur.


Setelah Pendowo dan Kurowo menguasai ilmu perang Durno ingat pad adendam lamanya kepada Drupodo dan berniat membalas dendam.  Dia memerintahkan mereka menyerang Poncolo dengan dalih latihan perang.  Tentara Poncolo bukan tandingan tentara Ngestino.  Dalam waktu singkat Poncolo ditaklukkan dan Drupodo ditangkap.  Durno memerintahkan Arjuno membunuhnya tapi Arjuno menolak karena tidak ada alasan yang tepat. Durno mengatakan bahwa Drupodo pernah menyakiti hatinya. Arjuno menjawab sakit hati tidak boleh menjadi alasan membunuh orang. Akhirnya Drupodo selamat dari kematian. Tapi kerajaanya tetap diminta sebagian oleh Durno.  Drupodo menjadi dendam dan berdoa agar anaknya bisa membalaskan dendamnya kelak di perang Baroto yudo.  Belakangan anak laki lakinya Destojumeno lah yang membunuh Durno dalam perang besar itu. Anak perempuannya Drupadi menjadi istri Judistiro (dalam versi India dia istri bersama Pendowo limo, poliandri)

Durno gugur


Pada perang besar Baroto yudo Durno mendapat giliran menjadi panglima pasukan Ngestino pada hari ketigabelas.  Berkat ilmunya yang tinggi dalam ilmu perang tidak susah buat dia menghancurkan pertahanan Pendowo.  Dalam waktu singkat pasukan Pendowo kocar kacir.  Kresno yang jadi jendralnya segera mancari akal. Akhirnya dia mendapat taktik licik juga.  Dia menyuruh Bimo membunuh seekor gajah yang diberi nama Aswotomo lalu semua anggota pasukan meneriakkannya.  Durno kaget dan panik.  Dia lantas bertanya kepada Judistiro kebenarannya.  Judistiro sudah dibertahu oleh Kresno agar berbohong tapi dia tetap tidka mau. Maka komprominya dia hanya membisikkkan saja kata gajah dan mengeraskan kata Aswotomo.  Durno yang mendengar dari mulut Judistiro yang dia percayai karena tidak pernah bohong seketika lemas, panik dan putus asa.  Dalam keadaan demikian ini Destojumeno lalu maju mendekati.  Saat itulah roh Ekoloyo, muridnya yang dizalimi sampai mati masuk ke raga Destojumeno dan membantunya membunuh Durno.

Tamat  

Wednesday, February 6, 2019

Banjaran Sengkuni




Nama Sengkuni menjadi terkenal lagi akhir akhir ini lantaran beberapa kejadian terkini di jagad politik Indonesia.  Siapakah sebenarnya Sengkuni?  Berikut ini lakon Banjaran (biografi) Sengkuni dalam versi Jowo yang sudah agak berbeda dengan versi India.  Selama ini banyak penulis dan dalang yang menciptakan sendiri versinya.  Sila simak.
Di masa mudanya namanya adalah Haryo Suman alias Raden Trigantalpati.  Dia anak raja Plasa jenar yang bernama Prabu Suwala.  Salah satu kakaknya bernama Gendari yang nanti menjadi istri Destoroto raja Ngestino (hastinapura). Di masa muda Haryo Suman adalah seorang satria yang ganteng.  Perilakunya juga sopan. Tutur katanya halus. Penampilannya embuat banyak orang senang dan percaya.  Namun sayangnya sifat sejatinya adalah licik dan culas, penuh tipu muslihat.
Ketika Gendari menjadi istri Destoroto maka Haryo Suman ikut ke Ngestino.   Sifatnya yang ambisius membuatnya selalu berpikir keras  mencari kesempatan untuk mendapat jabatan tinggi.  Sampai akhirnya dia melihat kesempatan emas.

Menjadi Patih Ngestino



Suatu hari ketika berangkat ke pasewakan ageng (sidang pleno) di depan istana Ngestino dia bertemu dengan Arimbo, anak Prabu Tremboko raja raksasa penguasa Pringgodani. Arimbo meminta ijin menghadap Pandu.  Suman menanyakan apa keperluannya.  Arimbo bilang mau menyampaikan surat dari Tremboko untuk Pandu. Suman lantas membuka surat itu.  Isinya Tremboko meminta maaf belum bisa sowan ke Ngestino ketika ada pasewakan ageng (sidang pleno) karena dia sedang menunggui istrinya yang melahirkan.  Suman lantas bilang ke Arimbo bahwa Pandu akhir akhir ini sedang pusing memikirkan masalah kenegaraan sehingga dia sensitif, suka marah marah. Daripada dimarahi lebih baik tidak usah bertemu.  Suman berjanji akan menyampaikan surat itu.  Arimbo percaya saja lalu pulang.
Ternyata Suman mengganti isi surat itu.  Suman memalsunya sehingga isinya mengatakan bahwa Tremboko sudah tidak mau datang lagi ke Ngestino dan kalau Pandu mau menjatuhkan sangsi maka dia siap melawan kapan saja.  Kemudian di sidang kabinet surat Tremboko itu dibacakan Suman dan dibahas.  Pandu sangat terkejut dan marah mendengarnya.  Tapi adik bungsunya Widuro yang menjadi penasehat raja memintanya lebih sabar dan bijaksana. Dia usulkan agar mengutus patih Gondomono datang ke Pringgodani untuk mengklarifikasi  dan memecahkan masalahnya.  Semula Suman menentang usulan itu tapi Pandu menerimanya. Dia putuskan esok harinya mengutus Gondomono untuk menuntaskan masalah dengan Tremboko.
Haryo Suman yang licik tidak kalah akal. Dia segera berangkat ke Pringgodani mendahului Gondomono.  Di sana dia menyampaikan kepada Tremboko bahwa Pandu marah kepadanya karena tidak hadir di sidang pleno dan sekarang mengirim pasukan di bawah pimpinan Gondomono untuk menangkapnya.  Tremboko tentu saja terkejut karena di suratnya dia sudah meminta maaf.  Tapi dia segera menyiagakan pasukannya di bawah pimpinan Arimbo si putra mahkota.  Pasukan Arimbo segera berangkat mengantisipasi serangan pasukan Ngestino.  Ketika sudah nampak Arimbo segeran menyerang.  Gondomono hanya membawa sedikit tentara karena tujuannya memang mencari perdamaian bukan menyerang Pringgodani.  Tapi karena mendadak diserang maka Gondomono dan pasukannya terpaksa melawan. Dalam keadaan tidak siap tempur tentu saja pasukan Ngestino kalah.  Suman membantu Arimbo memprovokasi Gondomono sehingga dia berhasil dijebak dan terjugkas ke sebuah sumur upas (lubang yang mengeluarkan gas beracun).
Ternyata Widuro sudah curiga dengan Suman.  Diam diam dia mengikuti Suman. Dia tidak melihat provokasinya kepada Tremboko tapi dia melihat ketika Gondomono dijebak ke sumur upas.  Setelah Suman dan Arimbo pergi maka Widuro menyelamatkannya dengan bantuan seorang pendeta. Gondomono masih hidup dan lantas pulang ke Ngestino. Sedangkan Widuro pergi ke rumah pendeta untuk menikah dengan anaknya karena dia memberi syarat demikian untuk menolong Gondomono.
Sementara itu Haryo Suman pulang ke Ngestino. Di sana dia melapor bahwa Tremboko memberontak.  Rombongan Ngestino dibantai dan Gondomono sudah tewas di tangan mereka.   Gendari dan Destoroto lalu mengusulkan agar Sengkuni diangkat menjadi patih menggantikan Gondomono.  Pandu setuju lalu Sengkuni diangkat menjadi patih Ngestino. 
Sedangkan Gondomono yang selamat akhirnya mengetahui akal licik Suman.  Setelah sampai di Ngestino dia langsung mencari Suman.  Di rumahnya dia menemukan istrinya sudah mati bunuh diri, maka kecurigaannya kepada Suman makin kuat.  Ketika bertemu dia langsung menyerang.  Kesaktian Gondomono ternyata jauh di atas Suman.  Emosinya yang meledak membuatnya tanpa ampun menghajar Suman sehingga Suman yang tak berdaya menjadi cacat.  Kakinya pincang, mulutnya sobek, punggungnya bongkok.
Amukan Gondomono dan jeritan minta tolong Suman menarik perhatian banyak orang.  Akhirnya suman diselamatkan banyak orang.  Gondomono langsung diadili oleh raja Pandu.  Raja sangat kecewa dengan tindakan main hakim sendiri. Pembelaan diri Gondomono sudah tidak diterima apalagi dengan pembelaan diri Suman yang mengatakan dirinya adalah korban penganiayaan.  Pandu lantas menjatuhkan sangsi.  Gondomono diusir dari Ngestino.  Dia tidak boleh lagi menginjakkan kakinya di seluruh wilayah Ngestino.  Kalau ketahuan maka akan langsung dihukum.  Dalam pertunjukan wayang kulit, adegan Gondomono pamit setelah diusir ini sangat mengharukan. Dia kehilangan jabatan, kehilangan istri dan nama baik.   Sejak itu Haryo Suman lebih sering disebut Sengkuni.
Nasib Tremboko sendiri tragis.  Dia yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan menjadi korban fitnah Sengkuni.  Atas tuduhan makar Tremboko dihukum mati, dibunuh oleh Pandu Dewonoto. Sementara pemerintahan dipegang oleh adik adiknya Brojomusti, Brojodento, dan Brojolamatan.  Di  kemudian hari anaknya Arimbo (Hidimba dalam Sangskrit) menggantikannya menjadi raja.   Adik Arimbo yang bernama Arimbi (Hidimbi dalam Sangskrit) akan menjadi istri Brotoseno dan memiliki anak Gatotkoco.       


Minyak Tolo



Setelah Pandu meninggal maka Destoroto naik tahta menjadi raja Ngestino.  Tidak lama setelah Pandu meninggal maka raja Destoroto berniat memberikan salah satu peninggalan Pandu kepada Pendowo dan Kurowo.  Peninggalan Pandu itu berupa minyak Tolo yang didapatkan dari dewa.  Konon kasiatnya minyak itu kalau dioleskan akan membuat seseorang menjadi sakti dan kebal segala macam senjata. Destoroto berniat menyebarkannya ke seluruh yang hadir tapi tangan Sengkuni menyenggolnya sehingga minyak itu tumpah semua.   Sengkuni segera membuka semua pakaiannya lalu berguling guling di lantai sehingga semua bagian tubuhnya terkena minyak sakti tersebut.  Sejak itulah Sengkuni jadi kebal senjata. Hanya ada satu bagian yang tidak terkena minyak.  Semar yang melihat itu paham dan nanti akan diungkapkan dalam perang Baroto yudo.

Pendowo dadu


Setelah Pendowo Limo dewasa maka dicapai kompromi yaitu mereka diberi wilayah yang masih hutan belukar.  Hutan Wonomarto namanya. Mereka bangun jadi negeri baru tapi ternyata konflik dengan Arimbo.  Akhirnya Arimbo mati di tangan Bimo dan Arimbi dinikahi.  Wilayah itu lalu menjadi negara Ngamarto yang dalam waktu singkat tumbuh pesat dan menjadi negri yang adil dan makmur.   Pertumbuhan Ngamarto tidak lepas dari amatan Sengkuni.  Dia lalu mendapat akal.  Suatu hari dia mengajak Kurowo bertandang ke Ngamarto.  Dia beralasan untuk mengakrabkan hubungan kedua negara.  Setelah berpesta pora makan enak Sengkuni mengajak bermain dadu.  Dia memang sangat lihai bermain judi termasuk dadu.  Dan salah satu kelemahan Judistiro kakak tertua Pendowo adalah suka main dadu juga.
Semalaman mereka bermain dadu saking lihanya Sengkuni memancing emosi Judistiro.  Sesekali diberinya kemenangan tapi keudian kalah lagi.  Demikian seterusnya sehingga Judistiro makin penasaran. Dia tidak mau berhenti.  Saat itulah Sengkuni memainkan jebakan utamanya.  Judistiro ditantang taruhan negara Ngamarto.  Kalau kalah maka Ngamarto akan jadi milik Kurowo.  Adik adiknya sudah mengingatkan tapi Judistiro yang sudah emosi tidak mau berhenti.  Tebakan terakhirnya ternyata salah maka terpaksa dia menyerahkan Ngamarto kepada Kurowo.  Kurowo yang menyaksikan kekalahan taruhan terakhir itu mejadi hialng kendali. Mereka bersorak sorak dan berteriak teriak di kraton Ngamarto.  Dan yang paling parah adalah tindakan Dursosono.  Dia adalah Kurowo nomor dua, adik Duryudono.  Dia mendatangi Drupadi, istri Judistiro (dalam Mahabarata asli dia istri bersama Pendowo Limo) lalu menarik pakaiannya. Dursosono berniat menelanjangi Drupadi.  Untunglah saat itu Drupadi dilindungi dewa. Pakaian Drupadi yang dibuka Dursosono tidak ada habisnya sampai akhirnya Dursosono jatuh terduduk karena kelelahan.  Meskipun demikian Drupadi menjadi dendam kepadanya. Dia bersumpah akan kramas dengan darah Dursosono. 
Akibat kekalahan itu Pendowo limo, Drupadi dan ibunya Dewi Kunti harus pergi dari Ngamarto selama duabelas tahun.  Apabila mereka ketahuan oleh Kurowo maka masa itu ditambah lagi duabelas tahun lagi.

Sengkuni Gugur


Di dalam perang Baroto yudo Sengkuni menjadi salah satu sasaran utama pihak Pendowo.  Sebenarnya  kesaktiannya tidak terlalu tinggi tapi dia memiliki senjata maut juga yaitu berupa krepus (topi) nya.  Kalau krepusnya dibanting maka akan terjadi hujan batu.  Senjata ini memakan banyak korban di kalangan tentara Pendowo.  Apalagi membunuh mendekati saja mereka sudah mati kejatuhan batu dari langit.  Kresno yang menjadi jendral pihak Pendowo pusing memikirkan masalah ini. Tapi dia lantas mendapat akal.  Dia menyuruh Bagong, salah satu Punokawan Pendowo untuk memata matai Sengkuni.  Bagong melaksanakan tugasnya dengan baik.  Dia mengikuti Sengkuni ke manapun dia pergi tanpa ketahuan.  Suatu saat ketika Sengkuni sedang mandi di pancuran krepusnya dicuri oleh Bagong.  Tanpa krepus saktinya Sengkuni tidak berbahaya lagi.
Setelah beberapa hari diburu akhirnya Brotoseno menemukan Sengkuni di Tegal Kurusetro, itulah nama medan perang Baroto yudo.  Keaktian keduanya tidka berimbang.  Mudah sekali bagi Brotoseno untuk menyerang Sengkuni.  Tapi Sengkuni ternyata kebal.  Semua serangan Brotoseno tidak ada yang mampu melukainya.  Untunglah Semar yang melihat perkelahian itu membisikkan kelemahan Sengkuni. Mau tahu kelemahannya di mana?

Ketika Sengkuni berguling di lantai untuk membasahi tubuhnya dengan minyak Tolo bagian duburnya tidak terkena minyak Tolo.  Itulah yang dibiskkan Semar kepada Bimoseno.  Dengan sigap Bimo menyerang dubur Sengkuni memakai kuku Ponconoko.  Sengkuni tewas mengenaskan.  Dia dikuliti lalu kulitnya diserahkan kepada Dewi Kunti, ibu Bimo karena dia pernah bersumpah untuk membuat pakaian dari kulit Sengkuni. 
Tamat
    




Tuesday, February 5, 2019

Menafsirkan cerita Arjuno Wiwoho



Arjuno wiwoho


Kata wiwoho artinya mulia, dimuliakan. Jadi frasa itu artinya Arjuno yang dimuliakan atau mendapat kemuliaan.  Karena artinya baik maka ini sering dipakai untuk nama di kalangan orang Jawa. Cerita ini adalah salah satu karya anak bangsa yaitu Empu Kanwa yang hidup di abad ke 11 di kerajaan Kediri, Jatim.  Judul lengkapnya Kekawin Arjuno wiwoho.  Karakternya memang diambil dari wiracarita Mahabarata tapi plotnya dan narasinya sepenuhnya karya Empu Kanwa.


Sejak Pendowo dan Kurowo masih kecil friksi di antara mereka sudah terasa.  Di masa awal itu penyebabnya masih sekedar sifat saja di antara mereka yang kontras.  Pendowo yang rajin, sabar, serius, pekerja keras, jujur berbenturan dengan sifat Kurowo yang egois, mau menang sendiri, malas, tamak, serakah, tidak jujur, manja dan pemarah.  Kurowo  sering merebut bahkan mencuri barang barang milik Pendowo. Awalnya Pendowo mengalah tapi kadang emosi mereka meledak sehingga terjadi pertengkaran dan bahkan perkelahian. Setelah remaja menjelang dewasa potensi konflik makin berkembang karena mereka sama sama merasa sebagai pewaris tahta Ngestino (Hastinapura).  Pandu Dewonoto ayah dari Pendowo Limo adalah raja Ngestino maka mereka merasa berhak menjadi pewaris tahta.  Raja yang saat itu sedang berkuasa adalah Destoroto.  Dia   kakak laki laki dari Pandu.  Ketika Pandu masih hidup dia tidak diangkat menjadi raja karena sejak lahir sudah buta.  Tapi ketika Pandu mati muda maka dialah yang diangkat menjadi raja dengan mengandalkan adiknya Widuro sebagai penasehat ketika harus mengambil keputusan pelik. Anaknya adalah Kurowo (artinya keturunan Kuru) yang berjumlah seratus.  Maka Kurowo ini merasa berhak juga menjadi raja. 
Sejak kecil sampai remaja Pendowo Limo tetap tinggal di istana Ngestino. Raja Destoroto mengangkat Begawan Durno seorang pendeta yang mumpuni menjadi mahaguru di istana Ngestino. Tugasnya mengajari Kurowo dan Pendowo dalam ilmu perang dan kenegaraan.  Karena sifat Pendowo yang positif maka prestasi mereka jauh di atas Kurowo.  Di antara semua muridnya Arjunolah yang paling menonjol. Arjuno menjadi murid kesayangan Begawan Durno.  Dia menguasai dengan sangat baik ilmu perang dan terutama ketrampilan memanah.  Suatu sat pernah diadakan pertandingan perang antara kedua kubu itu dan pemanangnya adalah Pendowo limo.  Kenyataan ini menambah dendam di hati Kurowo yang memang iri dengki.
Di tengah ketegangan yang mangkin meningkat itu Pendowo limo semangkin serius menyiapkan kekuatan untuk mengantisipasi perang yang bakal pecah.   Di antara Pendowo limo Arjuno dan Brotoseno yang paling kuat dalam ilmu perang.  Meskipun demikian mereka masih terus berupaya meningkatkan kekuatan.  Maka suatu hari Arjuno bertekad  melakukan topo broto (bertapa). Dia lantas mamakai busana sederhana, bukan busana kasatrian atau kaprajuritan (busana formal dan tempur) dan  berangkat sendirian ke gunung Indrokilo. 
Di gunung Indrokilo Arjuno tinggal di sebuah gua dan mengganti identitasnya menjadi Begawan Ciptoning.  Di dalam gua itulah dia bertapa mengurangi makan, minum dan tidur.  Setiap hari kegiatannya hanya memuja dan memuji yang maha kuasa.  Saking intensifnya Arjuno melakukan olah batin maka getarannya dirasakan sampai ke kahyangan. Para dewa merasakan getaran kuat  orang bertapa.  Betoro Guru lalu memerintahkan Betoro Narodo mencari tahu siapa orang yang sedang bertapa dan apa permintaannya. 
Narodo lantas turun ke Ngarcopodo (dunia) untuk menemui Arjuno yang sedang bertapa di lereng gunung Indrokilo.  Dia menaanyakan kepada Arjuno apa sebabnya bertapa dan apa permintaannya kepada para dewa.  Arjuno menjawab bahwa dia sedang prihatin dengan keadaan di Ngestino khususnya keadaan Pendowo limo yang selalu dizalimi Kurowo. Dia sampaikan permohonan perlindungan kepada dewa.  Dia juga memohon diberi kekuatan apabila suatu hari pecah perang antara Pendowo dengan Kurowo.  Narodo lalu kembali ke kahyangan untuk menyampaikan permohonan tersebut.
Setelah menemukan jawabannya Narodo melapor ke Betoro Guru.  Mereka berdiskusi dan Betoro Guru memutuskan akan menguji dulu sampai di mana keteguhan Arjuno.  Apabila dia lulus ujian itu maka Betoro Guru berkenan memberikan sebuah senjata ampuh berupa panah. Betoro Guru juga memeritahkan kepada Narodo untuk mengirimkan tujuh bidadari tercantik di kahyangan untuk menggoda Arjuno.  Maka diturunkanlah tujuh orang bidadari tercantik di kahyangan.  Di antaranya adalah Dewi Wilutomo, Dewi Tari, Dewi Tara, Dewi Suprobo dll.  Mereka masuk ke gua Arjuno dan menggodanya.  Ini sunguh sebuah godaan yang sangat berat buat Arjuno karena dia adalah seorang lelananging jagad (play boy).     Arjuno adalah seorang laki laki yang memiliki daya tarik yang luar biasa sehingga banyak sekali wanita yang terpikat dengan dia.  Bukan hanya gadis bahkan istri orangpun banyak yang terpesona dengan Arjuno. Bahkan tanpa dirayupun sudah banyak yang dengan suka rela menyerahkan diri.  Meskipun demikian ketika sedang bertapa Arjuno sangat teguh dalam tekadnya sehingga dia sama sekali idak tergoda.  Justru para bidadari itulah yang jatuh cinta kepadanya.  Tapi Arjuno tetap tidak mau melayani.  Akhirnya para bidadari menyerah.  Mereka pulang ke kahyangan dan melapor bahwa misi mereka gagal.
Narodo lantas turun ke gua di gunung Indrokilo sambil membawa hadiah untuk Arjuno berupa sebuah panah pusaka. Kepada Arjuno disampaikan bahwa dia ditakdirkan sebagai satria dengan tugas utama menjaga keamanan, melindungi rakyatnya dan menagakkan keadilan serta kebenaran.   Itulah sebabnya dia diberi senjata sakti tersebut.  Kemudian dia dituasi juga mempertahankan istana para dewa di kahyangan Jonggring salaka yang sedang diserang bangsa raksasa di bawah pimpinan raja Niwata kawaca.  Namun sebelumnya Arjuno harus melindungi warga lerang gunung itu yang sedang diancam bahaya.  Arjuno juga akan diberi hadiah yaitu tujuh bidadari tercantik di kahyangan yang pernah ditugasi menggodanya.
Setelah terkabul permohonannya Arjuno turun gunung untuk melaksanakan tugas mulianya.  Tidak lama kemudian dia sampai ke desa di lereng gunung Indrokilo.  Desa itu sudah sepi, tidak ada orang berani keluar rumah karena sudah beberapa lama diganggu oleh seekor celeng (babi hutan) yang ganas.  Celeng itu tidak hanya memakan hasil pertanian mereka tapi juga menyerang manusia.  Sudah banyak korban yang jatuh.  Warga juga sudah mencoba melawan dengan senjata tajam. Tapi celeng itu selalu menang meskipun dikeroyok rame rame.
Arjuno mengelilingi desa itu untuk mencari celeng pengganggu.  Tidak lama kemudian dia melihat dari jauh seekor celeng berlari mendatanginya. Celeng itu hkan sembarang celeng tapi celeng yang besar sekali dan buas sekali. Sejatinya dia adalah jelmaan seorang raksasa.     Dengan cepat Arjuno melepaskan panah saktinya yang baru saja didapat dari Betoro Narodo.  Arjuno adalah murid terbaik Begawan Durno yang sudah menguasai ilmu Sirwendo alias ilmu membidik dan dia juga juara panahan di Ngestino.  Tidak ada kesulitan buatnya membidik celeng yang sedang berlari ke arahnya.  Panah itu tepat mengenai celeng yang lantas jatuh sambil mengeluarkan suara keras.  Arjuno berlari mendatangi celeng tersebut untuk mencabut anak panahnya.  Namun ketika sudah di depan celeng dia terkejut melihat ada dua anak panah tertancap di badan celeng.  Lebih terkejut lagi ketika mendadak terdengar suara seseorang dari arah lain.  Di sana bedriri seorang satria gagah memegang busur.  Dia mengatakan anak panahnyalah yang tepat mengenai jantung celeng sehingga mati seketika.  Arjuno tidak terima. Dia juga mengatakan anak panahnyalah yang lebih dulu mengenai celang dan dialah yang membunuh celeng tersebut. 
Pertengkaran semangkin memanas sehingga berlanjut menjadi perkelahian.  Arjuno selama ini belum pernah terkalahkan dalam setiap perkelahian karena itu dia sangat percaya diri. Apalagi dia baru saja mendapat pencerahan dari dewa.  Tapi ternyata kali ini dia membentur batu.  Satria itu ternyata sangat kuat dan cepat gerakannya sehingga Arjuno terdesak terus dan akhirnya dipukul jatuh.  Dia yang murid terbaik Begawan Durno ternyata terpaksa mengakui keunggulan satria itu.  Tiba tiba satria itu berubah wujud menjadi dewa Siwa.  Arjuno menyembah dan memohon maaf. 
Setelah itu Arjuno menuju ke kahyangan Jonggring salaka yang sedang dikepung tentara raksasa dibawah pimpinan Niwata Kawaca.  Mereka menyerang karena lamaran Niwata Kawaca kepada seorang bidadari tidak dikabulkan para dewa.  Sekarang raja raksasa ini megancam akan menghancurkan Jonggring salaka dan memaksa menikahi bidadari idamannya.  Para dewa mengerahkan bala tentaranya tapi dengan mudah mereka dikalahkan tentara raksasa.  Untung para dewa masih bisa menyelamatkan diri di dalam benteng.  Kedatangan Arjuno segera disambut serangan tentara raksasa.  Karena kesaktiannya tidak ada seorangpun tentara raksasa mampu mengalahkannya.  Akhirnya Arjuno berhadapan langsung dengan Niwata Kawaca.  
Pertarungan satu lawan satu segera terjadi dengan seru. Arjuno mengeluarkan segala macam jurus saktinya yang selama ini berhasil mengalahkan semua musuhnya.  Tapi ternyata semua  kesaktian Arjuno tidak ada artinya sama sekali buat Niwata Kawaca. Semua pukulan, tendangan, tebasan pedangpun tidak mempan.  Bahkan panah sakti pemberian dewa yang baru saja dia dapatkan sama sekali tidak mampu melukai kulit Niwata Kawaca.  Dengan nada melecehkan Niwata Kawaca mempersilahkan Arjuno memilih bagian tubuhnya yang mana yang akan diserang.  Akhirnya terpaksa Arjuno melarikan diri agar selamat adari amukan sang raja raksasa sambil menantang besoknya dia akan datang lagi.
Malam harinya Arjuno memohon petunjuk para dewa agar bisa memanangi perang dengan raja raksasa itu.  Narodo yang datang memberi petunjuk bahwa seorang bidadari Dewi Suprobo akan diutus kepada Niwata Kawaca.  Dia ditugasi berpura pura mau menjadi istri Niwata Kawaca tapi sejatinya mencari rahasia kelemahan sang raja. 
Esok harinya    Niwata Kawaca sangat girang ketika tentara para dewa menyerahkan Dewi Suprobo kepadanya dengan syarat serangan dan kepungan dihentikan dan berjanji akan mengadakan pernikahan.  Niwata kawaca menyanggupi syarat itu.  Kepungan segera dibubarkan.  Sang raja raksasa segera memperlakukan Dewi Suprobo dengan sangat baik. Ketika makan siang hari itu dia diberi hidangan terbaik dan dilayani dengan baik.  Saking senangnya Niwata Kawaca memiliki calon istri bidadari idaman hatinya maka kewaspadaanya surut.  Dia tidka menyadari bahwa sang dewi sedang mematamatainya.  Sambil makan siang sang dewi memuji muji sang raja setinggi langit sambil menanyakan rahasia kesaktiannya.  Karena mabuk cinta sang raja membocorkan rahasianya bahwa kelemahannya terletak di mulutnya.  Semua senjata tidak akan mempan di seluruh tubuhnya kecuali di mulutnya.  Kalau dia diserang di mulutnya maka dia bisa mati.  Dewi Suprobo diam diam menyampaikan rahasia ini kepada Arjuno.
Dengan berbekal pengetahuan ini Arjuno sekali lagi menantang Niwata Kawaca untuk bertarung satu lawan satu.  Niwata Kawaca yang pernah menang merasa yakin dia akan menang lagi.  Dia bahkan mempersilahkan Arjuno memakai senjata apa saja yang dia sukai.   Sambil mementang busurnya Arjuno memancing Niwata Kawaca terus berbicara. ketika mulutnya terbuka maka secepat kilat anak panah pusaka meluncur dan masuk ke mulut Niwata kawaca.  Sang raja raksasa tewas seketika.  
Para dewa menyambut hangat kemenangan Arjuno.  Dia diberi penghormatan tinggi di kahangan jngring salaka dan dikikahkan dengan tujuh bidadari tercantik di kahyangan.  Salah satunya adalah Dewi Suprobo. 



Tafsir  
Saya punya tafsir atas cerita ini. Paling tidak ada dua hal yang saya tafsirkan dari cerita ini.  Pertama adegan Arjuno membunuh celeng dengan panah yang ternyata bersamaan dengan seorang satria jelmaan dewa.  Saya yakin maksud Empu Kanwa adalah keberhasilan manusia itu tergantung pada usaha manusia itu sendiri plus ijin  Allah.  Manusia wajib berupaya dengan baik. Ini adalah syarat keberhasilan mencapai apapun. Tapi ijin Allah mutlak diperlukan.  Apabila Allah sudah memberi ijin maka akan berhasil. Sebaliknya sebaik apapun upaya jika Allah tidak memberi ijin maka pasti gagal. 
Tafsir kedua saya tentang kelemahan Niwata Kawaca di mulutnya.  Kegagalan manusia bisa karena mulutnya, alias omongannya. Jadi kita harus menjaga omongan.  Jangan sampai ada omongan jelek, tidak sopan, apalabi makian, gibah dsb.
Itulah yang saya tangkap dari cerita Arjuno Wiwoho. Mungkin masih ada lagi metafora lain dari Empu Kanwa yang belum saya tangkap. Sila diutarakan.

Monday, January 14, 2019

Menulis bersama Kagama.


Menulis bersama Kagama

Bambang Udoyono

Ketika mendapat informasi tentang acara yang bertajuk Kagama menulis  dengan topik story telling  saya langsung tertarik.  Topik dan komunitas itu membangkitkan rasa ingin tahu saya. Lagipula tempatnya tidak susah dijangkau karena dekat.

Maka pada hari Sabtu pagi tanggal 12 Januari 2019 saya berangkat ke acara ini di kampus MM UGM di Saharjo,  walaupun pada saat yang sama ada acara sepeda santai di Depok bersama teman teman SMA yang sudah lama akrab.  Lalu lintas hari Sabtu pagi tidak padat sehingga sebelum acara mulai saya sudah sampai di kampus tersebut.

Kesan sepintas dari luar lumayan bagus juga kampus ini.  Letaknya cukup mudah dijangkau.  Sayangnya halaman parkirnya agak kurang luas untuk menampung banyak mobil.  Ketika ada acara yang dihadiri banyak orang agaknya mereka akan kekurangan tempat parkir.  Melangkah ke dalam kampus kesan bagus makin terasa.  Kampus itu tidak mewah tapi fasiltasnya memadai.  Di antara dua gedungnya ada tempat untuk duduk santai.  Di depan pintu ada orang yang siap menerima tamu dna mengarahkannya.  Di dalam banyak ruang kelas yang mirip kelas saya di kampus Fisipol yang di mBlimbingsari, dengan lantainya yang miring, makin ke belakang makin naik. 

Memasuki ruang 502 nampak beberapa orang sudah duduk santai di sana.  Kesan pertama ruang itu tidak terlalu luas tapi fasilitasnya cukup bagus. Saya lihat kursinya lumayan nyaman, ada proyektor, layar dan meja yang lumayan luas dan nyaman. Sayangnya udaranya agak pengap. Mestinya dari pagi dibuka dulu agar ada pergantian udara.  Saya lantas berkenalan dengan beberapa orang teman baru yang rata rata suka menulis. 

Tidak lama setelah pembukaan dengan menyanyikan lagu Indonesia raya acara dimulai.  Kali ini penyaji materi adalah Budi Setyarso yang sehari hari berprofesi sebagai kepala redaksi Koran Tempo.  Dia memaparkan tentang story telling untuk wacana non fiksi.  Sebenarnya topik ini tidak baru buat saya. Saya sudah menerapkan hal ini dalam buku saya.  Meskipun demikian menyimak paparan dari seorang jurnalis menarik juga.  Menurut dia prinsip penulisan berita ini bisa diterapkan dalam berbagai bidang.

Budi Setyarso membuka paparannya dengan memutar sebuah video tentang Steve Job yang sedang melakukan launching produk Apple di tahun 2007.  Ini adalah pilihan yang baik sekali karena Steve Job memang selain dikenal sebagai pebisnis top dia juga dikenal sebagai seorang public speaker terbaik dunia.  Presentasinya di product lauching apple ini dan juga pidatonya di Universitas Standford sangat terkenal sehinga menjadi rujukan orang sejagad yang ingin belajar public speaking, pidato, presentasi, pokoknya berwacana.   Singkat saja presentasi Steve Job tersebut tapi sangat powerful.  Dengan sedikit kata tapi dengan struktur yang bagus, dengan bantuan tampilan visual yang excellent dia berhasil memperkenalkan produk barunya. Berhasil di sini dalam arti presentasi itu sukses dan sehingga sukses juga penjualan produknya.   Setelah pemutaran video itu barulah Budi memaparkan materinya.

Story telling ini terdiri dari tiga bagian.  Bagian pertama yang biasa disebut lead berfungsi memberi informasi singkat tentang apa yang akan dibahas di dalam artikel itu.  Ia juga berfungsi sebagai penarik agar pembaca terus membaca artikel tersebut.  Karena itu ia adalah bagian terpenting.  Bagian ini harus bagus, informatif, menarik.  Bagian ini cukup dengan satu alinea pendek saja. 

Bagian kedua adalah paparan rinci yang bisa terdiri dari beberapa alinea. Bagian ini biasanya terpanjang karena berisi rincian.  Kemudian bagian ketiga adalah penutup.  Bagian ini tidak harus berupa kesimpulan. Bisa saja sekedar satu paragraf yan menutupnya.  Tanpa ini maka paparan terasa kurang lengkap dan bahkan hambar.  Jadi bagian ini penting juga.

Masih menurut Budi bahasa yang dipakai menyampaikan sebaiknya bahasa yang mudah dipahami, bukan bahasa yang membuat pusing pembaca.  Panjang kalimatnya sebaiknya tidak lebih dari duabelas kata. Usahakan memakai bahasa Indonesia yang baik.  Ragamnya tergantung pada siapa pembacanya dan apa materinya.  Pilihannya ada bahasa ragam formal dan informal misalnya.  Mana yang dipakai terserah disuaikan audiensnya dan tujuan wacana itu.     

Satu hal lagi yaitu unsur personal.  Seperti dalam video Steve Job yang memaparkan sejarah Apple, lalu baru memaparkan produk barunya dengan singkat, tidak masuk ke detil teknis yang terlalu rinci.  Jadi kalau kita menulis artikel singkat tentang wisata ke Cina, misalnya, sebaiknya paparkan pengalaman kita di sana, bukan sekedar fakta yang bisa dengan mudah didapatkan di internet atau buku. 

Paparan Budi diselingi dengan tanya jawab yang lumayan seru.  Salah satu pertanyaan yang menarik adalah tentang framing.  Seseorang bertanya bagaiman tentang framing.  Bukankah pers melakukan framing.  Dengan lihai Budi Setyarso berkelit.  Katanya dalam proses penulisan berita tidak ada istilah yang namanya framing.  Adanya materi yang dia paparkan itu, story telling untuk menceritakan realita, bukan fiksi.  Memang pernah ada kejadian wartawan menulis berita fiktif, dia berikan beberapa contoh di Indonesia bahkan di Amerika Serikat, tapi lantas ketahuan dan diberi sangsi.  Meskipun demikian buat saya nampak jelas bahwa pers melakukan framing. Ambil contoh pers barat yang jelas jelas menggambarkan Islam selalu negatif.  Jadi kesimpulan saya framing itu tidak dilakukan oleh redaksi, artinya pihak yang di atas redaksi. 

Setelah istirahat makan siang dan solat acara dilanjutkan lagi. Dalam suasana serius tapi santai setelah paparan dan tanya jawab selesai lantas dilanjutkan dengan praktek menulis.  Satu hal yang jadi catatan saya di sini Budi sebaiknya melakukan summing up alias menyampaikan lagi ringkasan paparannya.  Cukup beberapa menit saja uraikan dengan singkat pokok pokok paparannya baru masuk ke tugas menulis.

Salah satu peserta terlucu kemarin bernama Muha, seorang alumni fakultas Kehutanan.  Beberapa celetukannya mengundang tawa kami dan menyegarkan suasana.  Ternyata dalam tugas menulis dia juga bisa melucu.  Secara singkat dia menulis pengalamannya sebagai pemijat. Dia berprofesi sebagai pemijat tapi bukan sembarang pemijat. Salah satu clientnya adalah mantan presiden Gus Dur.  Dalam tulisannya kemarin dia bercerita tentang seorang kakak kelasnya yang dia sebut bernama si Kumbang.  Kakak kelasnya tersebut sangat arogan akibatnya mereka tidak memiliki hubungan yang dekat.  Delapan tahun setelah lulus tiba tiba si Kumbang menelepon dengan sangat ramah.  Dia minta ikut Muha ketika memijat Gus Dur.  Karena Muha baik hati keinginan itu dikabulkannya. Maka suatu hari mereka berdua datang ke rumah Gus Dur.  Si Kumbang ikut masuk ke rumah Gus Dur untuk melihat Muha memijat.  Ketika Muha sedang memijat dia sangat terkejut karena si Kumbang mendadak mengenalkan diri kepada Gus Dur sebagai wartawan dan minta wawancara.  Gus Dur menanggapi dengan asal asalan dan bahkan akhirnya tertidur.  Si Kumbang nampak kecewa dan pergi sebelum Muha seleai memijat.  Buat saya cerita Muha ini menarik karena ada kejutannya yaitu ketika temannya ternyata wartawan yang mengakali Muha untuk mendapat kesempatan mewawancarai Gus Dur.  

Sesi terakhir diisi dengan pembahasan tulisan para peserta. Kami diminta membaca tulisan yang baru saja disusun lalu Mas Budi membahasnya.  Ada beberapa saran yang dia sampaikan seperti masalah diksi, alinea, organisasi dsb.

Memang benar kata Budi Setyarso bahwa teknik story telling untuk non fiksi ini bisa diterapkan untuk berbagai bidang.  Untuk iklan misalnya teknik ini bisa diterapkan. Hasilnya iklan akan terasa sebagai sebuah cerita, bukan sebagai iklan.  Sudah hilang rasa iklannya tapi pesannya sampai. Iklan pariwisata juga bisa memakai teknik ini dengan cerita tentang pengalaman melancong, tentang sebuah destinasi wisata dsb.

Teknik ini bisa diterapkan juga di profesi saya sebagai tourist guide dan tour leader dan memang sudah saya praktekkan.  Hasilnya tidak jelek. Bayangkan betapa bosannya para wisatawan jika omongan tour guide dan tour leadernya tidak ada bedanya dengan apa yang mereka baca di internet.  Perbedaan yang mereka cari, perpektif baru yang mereka harapkan datangnya dari cerita tour guide dan tour leader dari perspektif personal kita. Jadi potret  kenyataan dari sudut pandang kita.  Saya punya banyak contoh, beberapa di antaranya berikut ini.

Dalam perjalanan wisata Java-Bali overland kadang kita harus bercerita sejarah perang dunia kedua.  Saya sering bercerita bahwa dulu di jaman kolonial di kota Magelang ada seorang Jepang yang membuka toko di Pecinan bernama toko Matahari. Dia menjual alat fotografi sekaligus melayani jasa pemotretan. Dia mampu berbahasa Melayu dengan baik.  Dan dia sering melayani pemotretan ke banyak tempat di Magelang dan sekitarnya.  Hubungannya dengan warga Magekang sangat baik.  Ketika tentara Jepang datang warga Megalng terkenjut karena ternyata dia adalah seorang perwira intelejen Jepang.  Ketika Jepang kalah dia ikut menghilang dari kota Magelang.  Inilah cerita dari bapak saya yang tidak bakal ditemui di internet.    

Ketika memandu ke Vietnam saya ceritakan bahwa kakak saya seorang perwira AL yang pernah punya pengalaman di Vietnam.  Saat itu di tahun 1973 ketika perang Vietnam sedang mencapai puncaknya. Pasukan Vietnam Utara sudah mendesak pasukan Vetnam selatan yang dibantu Amerika Serikat. Posisi pasukan selatan makin memburuk.  Kemudian pemrintah Amerika meminta bantuan militer Indonesia untuk mengkaji situasi di sana.  Kakak saya yang saat itu menjadi pamen ikut ditugaskan kesana, mungkin karena dia pernah mendapat pendidikan di Fort Benning, Amerika Serikat.   Di bawah pimpinan seorang pati mereka menilai situasi di selatan da akhirnya berkesimpulan bahwa perang itu akan dimenangkan oleh Vietnam utara karena mayoritas rakyat di selatan sudah mendukung Vietnam Utara dan kontra kepada pemerintah Vietnam selatan yang didukung Amerika.  Kata kakak saya kesimpulan itu dilaporkan ke mabes TNI dan akhirnya disampaikan ke pihak Amerika.  Dua tahun kemudian, di tahun 1975 ibukota Vietnam selatan yang saat itu dinamai Saigon jatuh ke pasukan utara.  Sejak itu tamatlah pemerintah Vietnam selatan.  Sekarang kota itu dinamai Ho Chi Minh city , memakai nama tokoh pendiri Vietnam.

Selain itu masih ada cerita cerita lain yang khas saya yang ada kaitannya antara Indonesia dengan Vietnam.  Kisah kisah khas seperti itulah yang menjadi bumbu perjalanan wisata agar menjadi lebih sedap daripada hanya sekear cerita yang dengan mudah bisa didapat dari internet eperti fakta sosial politik budaya dsb.

Ketika membawa rombongan  ke Thailand ada cerita tentang Winai Dahlan yang tidak kalah menarik.  Kalau ke Cina ada cerita tentang Lau jeng Tie. Demikian juga ke Jepang dll ada banyak cerita dari sudut pandang personal seperti itu. 

Jadi memang cerita tentang realitas non fiksi bisa jadi cerita menarik dan bisa diterapkan di banyak bidang.  Bisa untuk sekedar ngobrol dan bisa juga untuk iklan, untuk presentasi bisnis dsb.  
       







Wednesday, January 2, 2019

Indonesia's tourism in global perspective and what should we do about it.


Indonesia’s tourism in global perspective and what should we do about it

Bambang Udoyono

There is no doubt that tourism is getting more and more important in global economy. That explains why Indonesia does not want to miss the tremendous opportunity. Despite the fact that Indonesia has natural beauty and various cultural heritage throughout the country, the number of arrival and earning is still relatively low compared to neighboring countries in Southeast Asia.  The question is what are the factors behind these low numbers?  Then I search for information and try to find answer to my questions.  Now let’s pay attention to the following facts.
Data provided by World Economic Forum who published Travel and Tourism Competitiveness Index reveals some interesting facts on Indonesia’s tourism.  Here is my note about the data.
Travel and Tourism Competitiveness Index is a biannual report published by World Economic Forum starting in 2007.  In their own words it “measures the set of factors and policies that enable the sustainable development of the Travel & Tourism sector, which in turn, contributes to the development and competitiveness of a country”.
The TTCI consist of fourteen pillars organized into four sub indexes. Here are the four sub indexes and the pillars:
The Enabling Environment that consist of:
1. Business Environment  
2. Safety and Security  
3. Health and Hygiene  
4. Human Resources and Labour Market  
5. ICT Readiness.
The Travel and Tourism Policy and Enabling Conditions:
6. Prioritization of Travel and Tourism  
7. International Openness  
8. Price Competitiveness
9. Environmental Sustainability.
Infrastructure sub index consists of:
10. Air Transport Infrastructure   
11. Ground and Port Infrastructure   
12. Tourist Service Infrastructure.
Natural and Cultural Resources Index consists of:
13. Natural Resources   
14. Cultural Resources and Business Travel.
Those pillars consist of many detailed indicators.  Each pillars and sub indexes will be valued from 1 to 7.  They conduct survey in 141 economies and then made a rank of them. There are two ranks – global rank and regional rank. Here is the top ten in global rank.
Rank Country/Economy                                 Value
1 Spain                                                            5.31
2 France                                                          5.24
3 Germany                                                      5.22
4 United States                                               5.12
5 United Kingdom                                          5.12
6 Switzerland                                                  4.99
7 Australia                                                       4.98
8 Italy                                                              4.98
9 Japan                                                            4.94
10 Canada                                                       4.92

50 Indonesia                                                   4.04
Indonesia ranks no 50 out of 141 countries while in Asia Pacific region Indonesia ranks 11.
This is regional rank.
1.      Australia.
2.      Japan.
3.      Singapore.
4.      Hong Kong SAR.
5.      New Zealand.
6.      China.
7.      Malaysia.
8.      Republic of Korea.
9.      Taiwan.
10.  Thailand
11.  Indonesia.
Here are the detailed values of Indonesia in the above- mentioned pillars.
The Travel & Tourism Competitiveness Index
Rank (out of 141)                   Score (1–7)
50                                                        4.04
Enabling Environment            .......................80                                             ...........4.46
Business Environment.......................             63                                            ...........4.48
Safety and Security.............................           83                                            ...........5.16
Health and Hygiene ............................           109                                          ...........4.24
Human Resources and Labour Market       53                                            ............4.70
ICT Readiness........................................        85                                           ............3.73
T&T Policy and Enabling Conditions........        9                                           ............4.59
Prioritization of Travel & Tourism      ..........  15                                            ............5.61
International Openness           ........................55                                            ............3.55
Price Competitiveness                        ............. 3                                             ............6.11
Environmental Sustainability              ......... 134                                            ...........3.11
Infrastructure              ................................... 75                                            ...........3.38
Air Transport Infrastructure                ............ 39                                           ...........3.81
Ground and Port Infrastructure..................... 77                                            ...........3.27
Tourist Service Infrastructure....................... 101                                           ..........3.07
Natural and Cultural Resources.         ............ 17                                           ..........3.74
Natural Resources.......................................... 19                                            ..........4.36
Cultural Resources and Business Travel......... 25                                           ..........3.12

From the above data it is clear that Indonesia’s strength is price competitiveness.  It ranks 3 out of 141 countries.  Its value is 6.11.  The indicators for this factor are:
                                                                                    Value               rank
8.01 Ticket taxes, airport charges (0–100 best)*......... 92.7               .............11
8.02 Hotel price index (US$)*...................................... 93.9              .............17
8.03 Purchasing power parity*...................................... 0.4               .............17
8.04 Fuel price levels (US$ cents/litre)*....................... 47.0              .............11
Therefore the Indonesian government should try its best to keep the fuel price at the current level. It is advisable that the business community maintain hotel price at this level.
Indonesia’s weakness is environmental sustainability which ranks 134 or ranks 8 from below.  The indicators are:
                                                                                    Value                           rank
9.01 Stringency of environmental regulations†..............  4.0             .............73
9.02 Enforcement of environmental regulations†........... 3.9              .............64
9.03 Sustainability of T&T development†......................  4.6             .............57
9.04 Particulate matter (2.5) concentration (μg/m3)*.....9.2               .............80
9.05 No. of envtl. treaty ratifications (0–27 best)*.......... 20             .............63
9.06 Baseline water stress (0–5 worst)*  ........................ 3.3             .............99
9.07 Threatened species (% total species)*    ................ 13.1 ...........129
9.08 Forest cover change (% average per year)   *........ –5.5             .............97
9.09 Wastewater treatment (%)  *.................................. 0.0              ...........117
9.10 Coastal shelf fishing pressure (tonnes per km2)*..... 0.2            .............73
Besides that tourist service infrastructure ranks 101.   The indicators are:
                                                                                    Value                           rank
12.01 Hotel rooms per 100 pop.*................................... 0.2                          ...........100
12.02 Extension of business trips recommended†.......... 5.3                          .............67
12.03 Presence of major car rental companies†................ 2                           ...........105
12.04 ATMs accepting Visa cards per million pop.*.... 301.0                        .............86
Health and hygiene ranks no 109. This is another important factor that cannot be ignored. The indicators are:
                                                                                    Value                           rank
 3.01 Physician density per 1,000 pop.*........................ 0.2                           ...........113
3.02 Access to improved sanitation (% pop.)*............ 59.0                           ...........105
3.03 Access to improved drinking water (% pop.)*..... 85.0                          ...........105
3.04 Hospital beds per 10,000 pop.............................. 9.0                             ...........113
3.05 HIV prevalence (% pop.)*...................................... 0.4                          .............74
3.06 Malaria incidence per 100,000 pop.*............. 2,268.5                            .............48
I believe that the most important of all is human capital or in WEF term it is called human resources and labor market. It ranks 53. Here are the indicators:
                                                                                    Value                           rank
Qualification of the labour force         ............................ 5.4                          .............57
4.01 Primary education enrolment rate (%)*................ 92.2                          .............85
4.02 Secondary education enrolment rate (%)*........... 82.5                           .............90
4.03 Extent of staff training†.......................................... 4.7                         .............24
4.04 Treatment of customers†...................................... 5.0                            .............39
Labour market                        ................................................... 4.0                           .............72
4.05 Hiring and firing practices†.................................... 4.3                          .............32
4.06 Ease of finding skilled employees†........................ 4.3                          .............42
4.07 Ease of hiring foreign labour†................................ 4.4                          .............36
4.08 Pay and productivity†............................................ 4.5                          .............30
4.09 Female labour force participation (% to men)*....... 0.6                           ...........111
Those factors must be fixed immediately if Indonesia wants to improve its competitiveness to make ends meet.  That’s the picture of Indonesia’s present condition. Now let’s take a look at the opportunity of tourism market in the future.
Meryl Lynch prediction.
Meryl Lynch predicted that there will be 174 million Chinese tourists who go abroad and estimated to spend US $ 264 billion. As for age composition, 35% of them are between the ages of 25-34 years old. After that 27% of them are between 15-24.  They are the world’s biggest consumer of luxury goods.
The world’s biggest spender according to World Tourism Organization.
World's Top Tourism Spenders
1 China  
2 Germany 
3 United States 
4 United Kingdom 
5 Russian Federation 
6 France 
7 Canada 
8 Japan 
9 Australia 
10 Italy
11 Singapore
12 Brazil
13 Belgium 
14 Hong Kong (China)
15 Netherlands
Source: World Tourism Organization (UNWTO) © (Data as collected by UNWTO April 2013).

Those facts make it clear that there will be great opportunity in global tourism market by 2019.  In brief the biggest market will be Asian countries like China, Japan and Singapore. Next biggest will be European market and last is American market.  Unfortunately Indonesia is not an attractive destination for them since Indonesia is only ranks 50 from 141 countries.  Whether Indonesia can achieve its target of foreign tourist arrivals of twenty million people is still a big question mark.  Failure to achieve the target will bear serious consequences both for government and for business community.
            To be able to achieve the target the Indonesian government must make extra effort to fix weaknesses especially in health and hygiene, tourism service infra structure, environmental sustainability, and human resources.  If those weaknesses still prevail in 2019 and the target is met then there will be catastrophic consequences. How can they provide good service to millions of people who visit Indonesia with mediocre infra structure? If the human resources are not ready then the situation will get worse.  The service will be below standard. Tourist will complain and the following year foreign tour operators will be reluctant to promote Indonesia to their markets.
Fixing the weaknesses is far from easy because it needs inter departmental coordination. Everybody knows that coordination among many government agencies is one of the worst weaknesses in Indonesia. Take infrastructure development for example. It will need coordination with local government and ministry of public works, not to mention development of other supporting factors written above.  How can we do that in just four years from now?  It is hard to imagine.
Bearing in mind that there will be many obstacles I come to a conclusion that it will be better to change the target.  The ideal target is not about numbers of arrival but amount of money. Instead of targeting twenty million tourist who will spend approximately 17 billion US$ it is better to target about fifteen million tourist who will spend more than 17 billion US $, let’s say 20 billion US $.
Besides extra effort to fix those weaknesses to improve Indonesian competitiveness index and to promote Indonesia in global tourism market, it is advisable to focus on the biggest spender in tourism market and also on the fastest growing market.  The fastest one is Asia Oceania market which grew 16, 40% from 2013 to 2014, followed by Middle East market which grew 15, 40% for the same period. (Sources : Biro Pusat Statistik / Central Bureau of Statistic)
Therefore I come to a conclusion that the target of achieving twenty million arrivals in 2019 is almost impossible if our rank in TTCI is not in the top ten.  Even if the target is met but our rank is below top ten then it will bring boomerang to Indonesian tourism industry. So it is better to revise the target. It is better to focus on high end, more profitable market and the fastest emerging market. 

Sources
Biro Pusat Statistik (Central Bureau of Statistic), Statistik Kunjungan Wisatawan 2014.
World Economic Forum, The Travel & Tourism Competitiveness Report 2015: T&T as a Resilient Contribution to National Development.
UNWTO, World Tourism Organization, Annual Report 2014.