Showing posts with label wayang kulit. Show all posts
Showing posts with label wayang kulit. Show all posts

Tuesday, November 14, 2017

Petruk dadi ratu

Petruk dadi ratu (Petruk jadi raja)

Kerinduan pada akar budaya sendiri mendorong saya pergi ke Museum Wayang di kota tua untuk menonton pertunjukan wayang kulit yang diselenggarakan setiap hari minggu pagi dari jam 10.00 sampai jam 14.00. Menonton pertunjukan wayang kulit memberikan kepuasan atas kerinduan tadi. Saya juga mendapatkan jeda dari kegiatan rutin setiap hari.  Menonton wayang kulit juga memberikan pilihan lain terhadap kegiatan pergi ke mall di akhir pekan.  Variasi kegiatan ini sungguh diperlukan untuk menyegarkan kembali kreativitas saya. 
Maka pada hari minggu 12 November 2017 kemarin saya pergi ke museum wayang di kota tua Batavia.  Ketika saya membeli tiket masuk petugas pejualan tiket yang saya tanyai memberitahu bahwa cerita yang akan dimainkan berjudul ‘Petruk dadi ratu’.  Meskipun demikian ketika saya perhatikan sesudah di dalam ternyata ceritanya bukan itu.  Dalam beberapa kalimat saja saya tahu bahwa ceritanya adalah ‘Gatotkaca Lahir’  atau ‘Jabang Tetuka’.  Yang kedua ini adalah nama yang diberikan kepada anak pertama Bimoseno dari istrinya yang bernama Arimbi.  Ternyata hari itu ada dua orang dalang yang tampil.  Cerita Gatotkaca dimainkan oleh seorang dalang pemula yang baru diberi kesempatan tampil.  Cerita ini menarik juga tapi saya ingin fokus pada cerita kedua yang dimainkan oleh seorang dalang yang lebih senior.
Adegan pembukaan adalah Petruk yang sedang berlari cepat lalu menabrak seorang pendeta raksasa yang ternyata bapak kandungnya sendiri. Terjadi percakapan singkat.  Petruk lantas dibantu menyembunyikan diri dari kejaran dua pihak yang sedang bertikai.  Malam itu ada seorang wanita sakti bernama Mustokoweni mencuri pusaka kerajaan Ngamarto bernama Jimat Kalimosodo.  Seorang satria bernama Priambodo mengetahuinya lalu mengejar Mustokoweni bersama Petruk yang bekerja di sana sebagai punakawan (pembantu).  Terjadi pekelahian seru antara keduanya.  Priambodo berhasil merebut Jimat Kalimosodo lalu diberikan kepada Petruk untuk diselamatkan. Priambodo lantas melanjutkan perkelahian dengan Mustokoweni. Petruk lari ke suatu tempat dan tidak segera mengembalikan jimat Kalimosodo itu ke istana Ngamarto.  Jimat Kalimosodo itu membuat Petruk menjadi sakti mandraguna tanpa tandingan.
Adegan kedua di istana kerajaan Rancangkencono.  Saat itu sedang ada rapat kabinet dipimpin sang raja yaitu Prabu Joyo sentiko didampingi patih Kumandang Garbo.  Mereka tengah membahas ambisi raja menaklukkan kahyangan para dewa.  Mendadak rapat terhenti karena ada Petruk datang. Prajurit di luar tidak mampu menghadang kehendaknya masuk ke dalam istana.  Semuanya terkejut.
Petruk berbicara dalam bahasa ngoko kepada raja Joyo sentiko. Bahasa ini adalah ragam bahasa Jawa yang dipakai di antara orang yang setara misalnya antara teman akrab, saudara kandung dll.  Tentu saja raja marah karena tamunya tidak memakai tata krama.  Raja semangkin marah ketika Petruk menasehati agar seorang raja selalu memegang teguh agama, selalu adil dan melayani rakyatnya dan selalu terbuka terhadap opini dan kritik orang lain.
Pembicaraan keduanya menjadi panas sehingga raja tidak bisa mengatasi amarahnya lalu menyerang Petruk.  Ternyata dia bukan tandingan Petruk.  Dengan mudah  Petruk melumpuhkannya  sehingga Joyo sentiko terpaksa menyerahkan tahtanya kepada Petruk.  Maka Petruk menjadi raja di Rancang kencono dengan gelar Prabu Bel geduwel beh.
Setelah menjadi raja Petruk melakukan persiapan matang lalu menyerang kerajaan Ngestina (Hastinapura).  Lagi lagi kesaktiannya terbukti. Dengan mudah dia mengalahkan pasukan Ngestina.  Semua komandan dan petinggi ditahan.  Bahkan akhirnya raja Ngestina yaitu Suyudono alias Duryudono juga ditahan di rutan.  Hanya Patih Sengkuni yang berhasil lolos.
Sengkuni yang licik lalu lari menyelamatkan diri ke Ngamarto.  Sebenarnya dia akan minta tolong dan perlindungan kepada Pendowo Limo di Ngamarto.  Namun dengan lihai dia mengatakan bahwa Prabu Bel geduwel beh yang sudah menguasai Ngestina dan bahkan memenjarakan Suyudono dan kurowo adalah ancaman serius bagi Ngamarto.  Cepat atau lambat dia pasti akan menyerang Ngamarto.
Bimoseno yang tenperamental terprovokasi oleh Sengkuni sehingga dia seketika langsung berangkat akan menyerang Prabu Bel geduwel beh.  Setelah bertemu ternyata Prabu Bel geduwel beh menyatakan bahwa dia tidak ingin menyerang Ngamarto. Dia hanya ingin menyelamatkan Ngestino dari raja yang zalim.  Bimo lalu mundur  mendengar pernyataan itu.
Adegan berikutnya adalah rapat kabinet di Ngamarto. Sidang kabinet kali ini dihadiri Prabu Kresno yang merupakan penasehat raja dan sekaligus kakak sepupu Pendowo Limo. Sang prabu Kresno menyarankan agar mengutus Semar, Bagong dan Gareng. Semar adalah bapak angkat Petruk sedangkan Bagong dan Gareng adalah saudara angkatnya.  Mereka berangkat menemui Prabu Bel geduwel beh.  Awalnya sang raja berpura pura tidak mengenali mereka.  Namun mereka mengajak bernyanyi dan bercanda seperti kebiasaan mereka selama ini.  Tidak lama kemudian Prabu Bel geduwel beh berubah ujud, kembali menjadi Petruk.
Kalau kita menonton wayang dengan ekspektasi seperti menonton film Hollywood maka saya jamin anda pasti akan kecewa.   Alur ceritanya sangat datar.  Tidak ada kejutan. Tidak ada konflik seru.  Tidak ada alur berliku. Tidak ada misteri.  Tidak ada jalinan asmara.  Lalu apa yang ditawarkan oleh cerita ini?
Lakon ‘Petruk dadi ratu’  adalah lakon carangan, artinya dia adalah karya penulis Indonesia. Dia bukan bagian dari cerita asli Mahabarata meskipun  setting dan karakternya memang dari cerita Mahabarata.  Tokoh utamanya yang bernama Petruk adalah ciptaan penulis atau dalang Indonesia. Sayang sekali si penulis tidak mengungkapkan jati dirinya dengan jelas dalam sebuah kitab. Namun dari bahasanya diperkirakan lakon ini diciptakan di abad 19 di Yogyakarta.  Keberadaan tokoh Bagong menguatkan dugaan bahwa dia disusun di Yogyakarta karena konon Bagong tidak dikenal di Surakarta sebelum pemerintahan Sunan PB X.
Banyak orang meyakini kalau cerita ini adalah satire tentang seorang pemimpin yang tidak kompeten sehingga dia menyebabkan kekacauan dengan policynya yang konyol.  Dalam cerita itu memang Petruk menjadi sakti karena memegang Jimat Kalimosodo, bukan karena faktor yang ada dalam dirinya. Jadi mungkin maksudnya tidak ada kompetensi yang ada di dalam dirinya.  Melihat fisik Petruk yang tinggi dan berhidung mancung mengingatkan saya pada penguasa Nusantara di abad 19 yaitu Belanda.  Barangkali penulis mengecam penguasa saat itu yang menyebabkan kekacauan dan penderitaan rakyat.  Maklum saat itu penguasanya penjajah, bukan pemimpin.  Pemimpin adalah penguasa yang memajukan rakyatnya, bekerja untuk rakyatnya. Sedangkan penjajah menguasai untuk mengeruk kekayaan negri demi kepentingan kliknya sendiri. Pihak yang dianggap akan mengganggu kepentingannya pasti akan disikat.
Namun ada juga tafsir lain yang menganggap Petruk di sini mewakili sosok pemimpin ideal yang berasal dari rakyat dan bekerja untuk rakyat dengan menyerang penguasa zalim di Rancang kencono dan Ngestina.  Setelah angkara murka disirnakan dia kembali menjadi rakyat biasa menyatu lagi dengan rakyat. Jadi menurut tafsir ini kisah ini adalah ungkapan kerinduan penulis kepada sosok pemimpin ideal yang akan membersihkan negri dari penguasa korup dan tidak adil.
Kalau melihat tanggapan masyarakat dengan munculnya berbagai tafsir dan masih maraknya pementasan lakon ini maka bisa dikatakan lakon ini berhasil paling tidak dalam memancing bermacam reaksi.  Di museum Fatahillah bahkan ada sebuah lukisan dengan tema Petruk dadi ratu ini. Apapun tafsir orang maka hal itu sah sah saja karena memang karya sastra terbuka untuk banyak tafsir.  Silahkan saja membuat tafsiran sendiri. Siapa tahu tafsiran anda akan membuka pemikiran baru atau tanggapan baru yang memicu pemahaman baru atau bahkan tindakan baru lagi. 



Friday, August 26, 2016

Tafsir cerita Ramayana

Tafsir Ramayana Bambang Udoyono Siapa tak kenal dengan cerita Ramayana? Mungkin saja anda belum pernah membaca cerita lengkapnya tapi saya yakin paling tidak anda tahu tentang cerita itu. Bagi mereka yang masih tinggal di lingkungan sosial berbudaya Jawa atau Sunda atau Bali mungkin memahami cerita ini dengan baik. Saya sudah membacanya sejak kecil. Kemudian ketika beranjak dewasa saya pernah nonton pertunjukan wayang kulit dan wayang wong dengan cerita ini. Ketika saya menjadi pramuwisata saya mempelajari cerita yang dipahatkan di dinding candi Prambanan. Ada sebuah tafsir tentang cerita ini yang saya pernah baca. Saya membacanya di sebuah koran tapi saying sekali saya sudah lupa nama korannya apalagi nama penulisnya. Meskipun demikian ada satu poin yang masih saya ingat sampai sekarang. Penulis ini manafsirkan sebuah episode dalam cerita ini dengan sangat menarik sehingga saya masih ingat sampai sekarang. Rama dan istrinya Sinta sedang berada di sebuah hutan dengan ditemani oleh Lesmono, adik laki laki Rama ketika Sinta melihat seekor kijang yang disebut dalam cerita itu sebagai kijang kencana alias kijang emas. Kijang cantik itu lewat di dekat mereka dan menarik perhatian Sinta. Dia lantas meminta suaminya menangkap kijang tersebut. Rama meminta Lesmono menjaga kakaknya dan dia lantas memburu si kijang. Pada awalnya dia ingin menangkap si kijang hidup hidup tapi ternyata kijang itu mampu berlari dengan sangat cepat sehingga Rama tidak mampu menangkapnya. Dia berlari menjauhi Sinta dan Lesmono. Rama terus mengejar sehingga mereka tidak terlihat lagi oleh Sinta dan Lesmono. Rama kehilangan kesabaran dan lantas memutuskan untuk memanah kijang itu. Dibidiknya si kijang dan tak lama kemudian anak panah melesat dan mengenai si kijang. Ketika anak panah mengenainya si kijang menjerit keras memanggil nama Sinta lalu jatuh tersungkur dan berubah ujud menjadi seorang raksasa. Ternyata dia adalah Kala Marica, seorang prajurit dari kerajaan Alengka yang disuruh oleh rajanya Rahwana untuk menggoda Rama dan Sinta. Kala Marica berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Dia sudah memisahkan Rama dari Sinta. Sementara itu Sinta yang dijaga oleh Lesmono mendengar suara jeritan yang memanggil namanya dari kejauhan. Suara itu tidak terlalu jelas tapi terdengar namanya dipanggil. Sinta lalu meminta Lesmono untuk menyusul kakaknya karena dia mengkuatirkan keselamatan Rama. Pada awalnya Lesmono menolak. Dia sangat yakin dengan kesaktian kakaknya. Dia yakin tak seorangpun mampu mengalahkan Rama. Tapi Sinta tetap berkeras memerintahkannya mencari Rama. Akhirnya Lesmono mengalah tapi dengan syarat Sinta tidak akan keluar dari garis yang akan dia buat. Lesmono kemudian membuat garis melingkar di tanah. Dia menekankan agar Sinta jangan sekali sekali melangkah keluar dari garis itu, apapun yang terjadi. Sinta berjanji mematuhinya. Setelah itu Lesmono pergi menyusul Rama. Tidak lama kemudian muncul seorang pengemis tua mendatangi Sinta. Dia meminta sedekah dari Sinta. Ketika dia akan melangkahi garis yang sudah dibikin oleh Lesmono seketika dia langsung jatuh terjengkang ke belakang seolah olah ada kekuatan yang mendorongnya. Sinta merasa iba lantas dia melangkah keluar dari garis untuk menolong pengemis tua dan memberinya sedekah. Si pengemis tua mendadak berubah menjadi seorang raksasa yang gagah perkasa yang lantas memaksa Sinta mengikutinya. Dialah Rahwana, raja raksasa dari Alengka yang mencintai Sinta dan ingin memperistrinya meskipun Sinta sudah bersuami. Kemudian Sinta dibawa dengan paksa ke Alengka. Inilah penyebab perang besar antara Rama yang memiliki bala tentara kera dengan Rahwana dengan bala tentara raksasanya. Penulis yang saya lupa namanya tadi menafsirkan peristiwa penculikan ini dengan menarik. Menurut dia garis yang dibikin oleh Lesmono adalah metafora dari norma agama. Wanita dibatasi perilakunya oleh norma agama. Ketika dia berada di dalam garis itu dia akan tetap selamat. Tetapi kalau dia melangkah keluar dari garis itu alias melanggar norma agama maka dia akan mendapatkan malapetaka yang disimbolkan dengan diculik raja raksasa. Saya sangat setuju dengan tafsir penulis ini. Saya perhatikan di dalam masyarakat banyak sekali wanita yang menjadi ruwet hidupnya karena melangkah keluar dari norma agama. Sebaliknya saya melihat banyak sekali wanita yang tetap aman bahkan hidup mulia karena tetap berada di dalam garis itu. Tafsir lain adalah tentang kijang kencana. Dia menafsirkannya sebagai harta duniawi. Wanita bisa mendorong suaminya terlalu bernafsu mengejar harta duniawi sehingga berakibat negatif. Bukan kebahagiaan yang didapat tapi justru malapetaka. Apakah demikian maksud penulis cerita Ramayana? Hanya Tuhan dan dia yang tahu dengan pasti. Meskipun demikian karya sastra memang penuh dengan metafora. Karya sastra terbuka terhadap tafsir. Jadi sah sah saja kita menafsirkan karya sastra. Setelah tersebar maka karya sastra memang milik publik yang bebas menafsirkan bahkan menciptakan tambahan atau pengurangan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kita.