Monday, October 1, 2018

Obrolan Sabtu malam Minggu


Obrolan Sabtu Malam Minggu
Atas inisiatif beberapa orang terselenggaralah obrolan Sabtu malam minggu pada tanggal 29 September kemarin di Kopi Kong Djie di jalan Biak. Inilah catatan kecil saya tentang obrolan tersebut.
Acara ini dihadiri oleh senior kita pak Erwan, saya (Bambang Udoyono), pak Hanibal, pak Bembeng J, Danang, Ira, Risma, seorang teman Ira, dan tentu saja tuan rumah Tantri. 
Kesan saya tentang tempat itu (Kopi Kong Djie) lumayan enak suasananya.  Di bagian depan ada ruang terbuka buat para perokok. Lantas di bagian dalam ada ruangan yang cukup luas dan nyaman buat ngobrol bersama banyak orang.
Saya sendiri datang agak terlambat (Maaf lahir batin).  Meskipun demikian kelancaran acara tidak terganggu karena waktu kami masih longgar.
Setelah  ngobrol ngalor ngidul mulailah kami agak serius, tapi tetap dengan suasan santai.  Pak Bembeng J membuka obrolan lalu mengarahkan obrolan ke materi pokok yaitu membahas buku saya yang berjudul ‘Sukses menjadi pramuwisata profesional’  yang lumayan luas beredar di kalangan pariwisata sehingga sering dijadikan rujukan dalam karya tulis mahasiswa pariwisata. (Saya sering mendapat kabar tentang orang yang menulis skripsi dan menggunakan buku saya sebagai referensinya).  Pak Bembeng lantas memberi saya kesempatan untuk memaparkan isi buku ini.
Dalam waktu kurang lebih duapuluh menit saya paparkan inti pokok buku saya ini.  Pertama saya sampaikan bahwa konsep buku itu adalah serius tapi santai.  Jadi saya tidak ingin memaparkan definisi tentang pramuwisata dan tugasnya dengan bahasa yang lugas dan garing.  Saya ingin menyampaikan hal yang serius tapi dengan bahasa yang enak dan gampang dipahami.  Belakangan saya tahu dari reaksi pembaca bahwa ada yang menganggap buku saya ringan tapi ada juga yang merasa berat.  
Untuk memudahkan definisi pramuwisata saya memakai gambaran berikut.  Ketika memandu di candi Borobudur, terutama ketika turun dari candi, saya sering berpapasan dengan rombongan wisatawan Indonesia yang ngedumel.  Mereka complain di sana yang mereka lihat cuma batu dan sekumpulan orang dalam cuaca panas.  Sedangkan para tamu saya selalu merasa puas. Mereka selalu bilang ‘impressionant’  atau ‘very impressive’ untuk melukiskan kepuasan mereka.  Perbedaan itu adalah karena wisatawan Indonesia tidak memakai jasa pramuwisata dan wisman memakai.  Pramuwisatalah yang mengatur jam keberangkatan tour sehingga ketika tiba di tempat wisata para wisatawan tidak kepanaan karena masih pagi atau sudah sore.  Kemudian pramuwisata yang menghidupkan tumpukan batu kuno tersebut dengan cerita sejarah, gaya arsitektur, filosofi dsb.   Di sisi lain wisnu yang tanpa mamakai jasa pramuwisata berangkatnya saja ngaret.  Dari Jogja misalnya, mereka berangkat jam 9.00 pagi dan tiba di Borobudur jam 10. 30. Ketika mereka di sana antara jam 11-12 siang pasti sedang ada di puncak panasnya.  Akibatnya alih alih menikmati wisata mereka justru kepanasan.  Maka mereka ngedumel.  Jadi itulah gambara seorang pramuwisata secara singkat. Yaitu seseorang yang membuat perjalanan wisata aman, nyaman, lancar, enak.
Kemudian di buku itu saya papakan contoh memandu di Jateng, Jatim dan Bali dan juga saya paparkan kiat mengantisipasi masalah. Sedikit saya singgung juga pengembangan diri pramuwisata.  Boleh saja seumur hidup jadi pramuwisata. Meskipun demikian jangan lewatkan peluang lain yang ditawarkan dalam kehidupan.  Dengan kata lain pramuwisata bisa dijadikan batu loncatan untuk menggapai sasaran lain.  Saat ini pramuwisata bisa juga menjadi pengajar, asesor, penulis, wiraswastawan di bidang pariwisata, transportasi, dll. 
Singkatnya buku ini lumayan komprehensif membahas berbagai aspek pramuwisata.  Karena itu waktu terasa cepat berlalu sebelum tuntas dibedah semuanya.  Jadi buku ini masih relevan untuk pramuwisata muda terutama.  Meskipun demikian gagasan saya dama  guiding sebenarnya sudah berevolusi. Dari bacaan, obrolan dengan teman seprofesi dan pengalaman memandu saya menyadari bahwa story telling lah yang membuat kesan paling kuat bagi wisman.
Kenapa story telling paling kuat?  Karena ia menyentuh emosi pendengarnya dan bukan cuma menyentuh logikanya.  Kesan yang ditangkap oleh emosi lebih kuat tertancap di hati daripada yang didapat oleh logika.  Data dan fakta akan segera dilupakan.  Misalnya kita katakan di Borobudur ada 505 atau 504 patung Buda.  Lima menit setelah mendengar mereka akan lupa lagi karena tidak relevan tidak penting buat mereka.   Bagaimana membuat story telling yang menarik?  Barangkali next time bisa kita bahas lagi.  Dulu pernah ada guide Malaysia paparkan cara story telling tapi dalam pandangan saya dia tidak mengajarkan teknisnya, dia hanya utarakan normatifnya saja.
Ada dua contoh yang saya paparkan kemarin.  Keduanya selalu berhasil menarik perhatian para tamu ketika saya terapkan kepada mereka dalam perjalanan overland.  Cerita pertama tentang perang dunia kedua di Jateng.  Ini adalah pengalaman almarhum bapak saya.   Dulu ketika bapak saya masih muda dan belum menikah beliau sempat berfoto dengan keluarganya di sebuah gerai foto di Pecinan Magelang. Namanya Matahari.  Fotografernya orang Jepang yang kata bapak saya sangat sopan dan bisa ngomong bahasa Melayu. Foto keluarga itu masih ada sampai sekarang di Magelang. Di jamannya foto hitam putih itu sangat bagus sehingga dia mendapat banyak langganan.  Ketika tentara Japang datang di Magelang semua orang terkejut karena dia ternyata seorang kapten AD Jepang.   Ternyata dia adalah seorang mata mata Jepang yang menyamar jadi fotografer untuk mencari data intelejen.  Jadi ketika tentara Jepang datang mereka sudah mengenali dengan baik kota tersebut dengan data dari si fotografer. 
Cerita kedua tentang alas Gumitir di Jatim.  Dulu pernah suatu malam ada bus melintasi hutan perawan di Gumitir.  Di tengah hutan yang gelap gulita mendadak si sopir mengerem busnya sehingga mengejutkan semua penumpang.  Ketka ditanya di sopir menunjuk ke depan bus.  Di sana tampak seorang bayi yang tengah merangkak di tegah jalan.  Kemudian seorang penumpang turun dan berupaya menggendong si bayi. Suasana menjadi tegang.  Beberapa penumpang memberi peringatan agar hati hati karena siapa tahu itu bukan bayi manusia.  Tapi orang itu berani. Dia baca doa lantas si bayi diagkatnya. Ternyata dia bayi manusia.  Mereka lalu berunding dan memutuskan akan menyerahkan si bayi di kantor polisi terdekat.  Singkat cerita, polisi menerima dan kembali ke tkp.  Di sana ditemukan ibu si bayi dala keadaan luka terkapar di tepi jalan.  Itu adalah upaya pembunuhan.  Untunglah keduanya masih dilindungi Allah. 
Kedua cerita itu selalu berhasil mendapatkan perhatian para wisman sehingga menyebabkan obrolan jadi gayeng. Dan masih banyak lagi cerita lain yang bisa dikembangkan.
Dalam pengalaman saya cerita begini lebih menarik daripada cerita tentang data dan fakta.  Ketika akan melewati perkebunan misalnya, dulu saya cerita fakta bahwa ini dulu perkebunan milik Belanda. Setelah merdeka diambil alih oleh pemerintah dan ada yang dijual ke swasta dsb.  Tapi kalau dalam perjalanan itu kita melewati banyak perkebunan maka kedua dan ketiga kalinya sebelum kita omong tamu pasti sudah bisa menduga guidenya pasti akan mengullangi cerita yang sama.
Setelah itu Bembeng J menanyakan kepada semua apa yang dimaksud dengan guide yang sukses.  Kami memiliki beberapa pandangan yang saling melengkapi. 
Pak Erwan memaparkan tinjauannya dari sisi standard kompetensi.  Ira juga memaparkan opini dan juga pertanyaan yang menggelitik.  Risma juga punya pandangan bahwa pramuwisata sukses adalah yang mampu mememuhi keinginan wisman.  Pertanyaan saya bagaimana kalau keinginannya aneh aneh?
Rasanya sabtu sore dan malam minggu kemarin terlalu singkat. Masih banyak hal yang bisa kita obrolkan.  Banyak hal yang bisa kita pertukarkan.  Jadi alangkah baiknya kita agendakan pertemuan rutin semacam ini untuk memperkaya wawasan, menambah ilmu dll. Pertemua mendatang saya usulkan membahas tentang vlog dengan narsum Danang dan boleh juga yang lain.  Lain kali mungkin tentang menulis. Karena menulis blog, artikel dsb sangat bermanfaat, meskipun kita tidak bercita cita jadi penulis. 
Sekian dulu catatan saya. Sila yang lain kemukakan catatannya masing masing.

Wednesday, May 2, 2018

Guiding 28




Saya sedang menulis buku ketika telepon genggam saya menerima order untuk memandu city tour di kota Jakarta pada tanggal 28 Mei 2018.  Saya mendapat informasi bahwa tamunya bakal menginap di Hotel FM di dekat bandara.  Program city tour Jakarta ini sebenarnya sudah tidak asing lagi buat saya tapi ada beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya seperti Museum Art 1 dan rumah makan Tugu Paleis di Menteng. 
Pada hari H saya berangkat pagi pagi sekali.  Sesudah subuh saya langsung memesan Gojek menuju ke terminal Kayu ringin.  Jam 6.00 pagi bus Damri berangkat dari sana dan di luar dugaan saya, jam 7.00 pagi saya sudah sampai di hotel Amaris di dekat bandara.  Saya harus turun di sana karena bus Damri tidak melewati hotel FM.  Jadi dari depan hotel Amaris saya naik gojek lagi sampai ke hotel FM.  Jam 7.15 saya sudah sampai di hotel tersebut.  Terlalu pagi sebenarnya karena tour dimulai jam 9.00. Tapi tidak masalah, saya bisa mengisi waktu luang dengan memotret hotel itu untuk saya unggah di Google map lalu membuat reviewnya. 
Sekitar jam 8.00 ada dua orang bule yang keluar dari restaurant dan duduk di lobby.  Saya kira mereka tamu saya lalu saya sapa. Ternyata dugaan saya meleset.  Jam 9.00 lewat sedikit ada dua orang masuk ke lobby.  Salah satunya perempuan bule yang agak tua dengan anak laki lakinya yang tampangnya tidak terlalu bule, kulitnya agak mirip orang Asia. Awalnya saya agak ragu tapi setelah bertegur sapa ternyata mereka adalah tamu saya.  Mereka orang Belanda jadi saya berbicara dalam bahasa Inggris.
Tour dimulai dengan kunjungan ke Kota Tua.  Di dalam mobil segera terjalin obrolan akrab dengan ibu dan anak.  Mereka ramah sekali sehingga obrolan dengan mudah mengalir lancar jaya. Si anak laki laki yang bernama Ruben adalah seorang manajer sebuah perusahaan travel di Bangkok sedangkan ibunya, namanya Nada, adalah seorang seniwati. Dia menguasai seni lukis dan seni kriya, terutama keramik. Namun pekerjaan utamanya adalah mengelola sebuah hotel kecil di daerah Bourdeau di Perancis selatan.   Di sana dia memiliki sebuah rumah tua dari abad ke 18 yang disewakan kepada tamu tamu.  Ketika sedang penuh tamu dari kota besar seperti Paris maka dia tidur di rumah mobilnya. Dia memiliki sebuah rumah mobil yaitu kendaraan yang berbentuk seperti bus yang dilengkapi dengan kamar mandi, kamar makan , tempat tidur dan lain lain.
Pagi itu Kota Tua sudah padat dengan pengunjung yang kebanyakan para pelajar dari Jakarta dan sekitarnya.  Seperti bisa paparan saya tentang kawasan itu diinterupsi oleh mereka yang ingin berfoto dengan tamu saya. Maklumlah kebanyakan orang Indonesia masih heran melihat orang bule.  Hapir semua mata menatap tamu saya dengan ekspresi yang menunjukkan keheranan.  Di dalam museum Fatahillah suhu udara terasa panas meskipun tidak tersengat matahari langsung.  Beruntung tamu saya menyukai Asia dengan suhu panasnya.  Sekitar satu jam kami di sana.  Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke museum Art 1.  Saya belum pernah ke sana sebelumnya.  Untunglah di jaman now ini sudah ada mbah Gugel yang memudahkan saya mencari informasi dan lokasinya. Kami menuju ke sana dengan dipandu oleh peta mbah Gugel.  Sopirnya juga cukup mahir memakai paduan peta mbah Gugel.  Meskipun harus mencari lokasi kami sampai juga di museum tersebut dengan lancar jaya.
Dari depan bangunan museum ini nampak biasa bisa saja.  Tidak ada yang nampak istimewa dari penampilan depannya.  Seorang satpam menyambut dan mengarahkan kami ke lantai dua.  Di sana sudah banyak anak anak muda, mungkin pelajar atau mahasiswa yang agaknya sedang mengikuti sebuah acara diskusi.  Beberapa karya seni kriya menghiasi ruangan penerima tamu.  Ada replika mobil tua yang dibikin bulat seperti bola. Nada berkomentar gagasan ini pastilah meniru gagasan seniman Perancis. Tiket masuk ke museum ini mahal juga dibanding tempat wisata lain di Jakarta.  Setiap orang harus membayar IDR 150 000, kecuali guide.  
Seorang pemandu lokal memandu kami naik ke lantai berikutnya.  Ruang pamernya cukup luas dan nyaman.  Udara dan sinar masuk dengan cukup sehingga suhunya nyaman dan karya terlihat dengan baik.  Di sana di pajang berbagai karya seni kontemporer dari beberapa pelukis Indonesia.
Ibu Nada sangat antusias menikmati karya karya tersebut. Menurut dia karya para pelukis Indonesia yang dia lihat itu sudah berkualitas sangat baik.  Pemandu lokal hanya memberi informasi ala kadarnya saja tentang karya karya tersebut.  Saya bukan seorang seniman lukis atau kriya sedangkan tamu saya adalah seorang seniman, jadi saya pikir lebih baik memancing pendapatnya tentang karya seni itu.  Lalu saya sampaikan sebuah kalimat pancingan.
‘It is hard to understand contemporary art like this’
Seketika muncullah jawaban yang saya kehendaki.  Dia lantas menerangkan dengan panjang lebar.
‘You don’t have to understand these works.  The most important thing is interaction between these art work and you. Now what do you think of this one?’
Dia menunjuk sebuah lukisan yang buat saya nampak abstrak tapi indah. Di kanvas itu hanya ada sapuan warna hijau muda di bagian bawahnya dan putih cerah di bagian atasnya. Nampak juga beberapa detil yang tidak jelas bentuknya.  Kesan saya melihat itu adalah perasaan cerah ceria, gembira.  Ini saya sampaikan kepada Nada.  Dia menafsirkannya sebagai sumber air yang membuat segar.  Kemudian kami menatap lagi sebuah lukisan yang tidak kalah anehnya di mata saya.  Bagian bawah lukisan itu hanya ada warna hitam kebiruan (blue black). Warna itu memenuhi kira kira 75% dari bidang kanvas.  Di bagian atas agak kurang gelap tapi ada gambar lingkaran merah gelap.  Agaknya seperti lukisan malam purnama yang suram dan gelap. Saya merasa tidak nyaman melihat lukisan tersebut dan ingin cepat cepat meninggalkannya.  Tapi tamu saya menanyakan kesan saya tentang lukisan itu.
‘It is frightening.  It remids me to a bloody political conflict in Indonesia in 1965.  I was a kid at that time. I did not know what was going on, but I felt something wrong was happening.  My mother told me to go home immediately after school and not to play far from home.  Some years later I realize that there was a conflict that took many lives.’
‘See,  a work of art can reveal a trauma’
‘You are right.  I never saw any violence but I felt it.  I felt the atmophere of conflict.  I felt the anger and the fear among people.’
Saya berkata demikian sambil menjauh dari lukisan yang menyeramkan itu.  Memang benar kata dia bahwa ada interaksi antara karya seni dengan kita, dan itulah yang terpenting.  Kita tidak usah repot memahaminya. Kita hanya perlu merasakannya.
Setelah itu ada beberapa karya lagi yang membuat Nada dan saya terkesan.  Dan dari semua tempat wisata yang kami kunjungi hari itu, museum Art 1 adalah yang paling berkesan.  Bahkan di sore hari dalam perjalanan kembali ke hotel kami masih membicarakannya. Itulah highlight hari itu.
Jadi guiding hari itu berhasil dengan baik.  Bukan karena saya mampu menerangkan dengan baik tentang karya seni di museum tersebut tapi karena saya berhasil memancing tamu mengutarakan gagasan dan perasaanya tentang karya seni tersebut.  Guiding memang bukan lecturing.  Saat guiding peran kita bukan dosen dan tamu bukan murid kita.  Guiding adalah memuaskan tamu kita.  Kadang dengan cara menempatkan dia sebagai guru kita.  Terutama ketika berhadapan dengan seseorang yang lebih tahu daripada kita.  Kemarin itu saya hanya perlu menjelaskan siapa Basuki Abdullah, Sudjojono, dll.  Tapi saya tidak perlu mengajari tentang substansi lukisan mereka karena dia lebih mampu menjelaskan dengan mantap.  Dengan demikian dia puas dan kita mendapat wawasan baru.

   

      

Sunday, April 15, 2018

The Battle of Bubat and its enduring impact.






Book Title        :  Gajah Mada, Perang Bubat.
Author             :  Langit Kresna Hariadi.
The battle of Bubat is a true event that took place hundreds of years ago but its implications is still apparent today.  Here is the background in brief.
The kingdom of Majapahit in Trowulan, east Java reached its golden age under King Hayam Wuruk and Prime Minister Gajah Mada.   The kingdom controlled most of western part of Indonesia today and even Tumasik (Singapore) and a part of the present day Malaysia.  Gajah Mada the ambitious prime minister had vowed that he would conquer the whole archipelago.  He was a smart military commander who had a great contribution to the development of the kingdom.
Hayam Wuruk was just a young boy when he came to power.  He was not married at the time.  At the age of twenty six he wanted to marry a lovely girl.  So he ordered his artist to everywhere to paint beautiful girls.  He received so many pictures but he did not like any of them.  Until one day one of his artists showed him a picture of Dyah Pitaloka, the daughter of King Linggabuana from the kingdom of Galuh, in west Java.   Hayam Wuruk instantly fell in love when he saw the picture.  He decided to marry the princess.  King Linggabuana accepted the proposal of Majapahit king.  Then one day he came to Majapahit with his daughter, his family and a small group of guards.
But when they arrived in Majapahit a problem arose.  There was a misunderstanding about the proceeding and protocol of the wedding.  Consequently hostility mounted.  Both sides were unable to control their emotion so a battle broke out.  The fight took place in a field called Bubat, not far from the palace of Majapahit.  The Galuh guards were outnumbered so they were easily defeated by the mighty Majapahit army.  All of them were killed.  Dyah Pitaloka was shocked, scared and finally she killed herself.
That is the true event that took place in 1360 AD.  The implication is great.  After the battle the west Javanese people or the Sundanese were deeply hurt.  Consequently the relationship between the two countries was bad along the ages.  There has been mistrust between the two ethnic groups as well.  The Javanese people always tell their children not to marry Sundanese women.  Perhaps the Sundanese family tell similar thing to their children – not to marry Javanese men.  Even today many Javanese do not trust Sundanese.  They will never choose any Sundanese for their leader.  They think that Sundanese are not capable of being a leader.
Langit Kresna Hariadi is one of the best Indonesian novelists.  This time he writes a novel using that episode of history as background.  In my opinion he is a master in writing historical thriller novel.  He adds some characters and events to the story that makes it more interesting.
Prajaka is the son of Pradabasu, a retired military officer.  Prajaka suffers from a kind of mental disorder but he can calculate very quickly.  He is also very talented in the art of carving and drawing.  One day he left his house and he forgot the way home because he suffered from amnesia.  He even forgot his own name.  He went to the west and finally he got to Galuh.
 Meanwhile Majapahit held preparations for the king’s wedding.  But some high ranking officials in Majapahit had a different idea.  They saw this event as an opportunity to conquer Galuh.   Gajah Mada wanted Galuh to be a part of Majapahit.  So he sent his men to threatened Galuh.  Some of Majapahit’s intelligence knew that Pitaloka had a boy friend.  The spy knew that Pitaloka met his boyfriend secretly inside the palace.  They were very worried if Pitaloka went too far with his boyfriend.  So they had a plan to sabotage the wedding.
 When the Galuh royal family went to Majapahit by sea, an officer reported to Majapahit that King Linggabuana of Galuh wanted the wedding be postponed for seven days.  Consequently when they arrived in Majapahit they did not receive any welcome party.  They were very disappointed.  Misunderstanding continued and finally battle broke out.
Langit Kresna Hariadi is good in giving surprise.  By the end of the battle there is a surprise.  But I am sure it better you find the surprise yourself.  It won’t be interesting if I tell you here.
The novel is really entertaining.  It is not only a book on the history of Majapahit and Galuh but it is an excellent literary work. It is beautiful.  I believe it is worth translating into English and many other languages.  In the preface he also writes his message the two ethnic groups should forgive each other.
Bambang  Udoyono

Tuesday, March 20, 2018

Kehendak Tuhan dan Upaya manusia


Kehendak Tuhan dan Upaya manusia
Bambang Udoyono
Arjuna Wiwaha adalah sebuah cerita klasik dalam sastra Jawa yang ditulis oleh Empu Kanwa di abad ke 11 dalam bentuk kekawin.  Kekawin adalah salah satu bentuk karya sastra Jawa kuno dalam bentuk puisi yang memiliki kaidah kaidah spesifik. Gelar Empu menunjukkan bahwa dia adalah seorang cendekiawan yang diakui dan dihormati di masyarakat Jawa di masa lalu. 
Empu Kanwa merangkai cerita ini dengan memakai tokoh tokoh dalam cerita Mahabarata. Plotnya dia ciptakan sendiri. Jadi ini adalah cerita varian dari Mahabarata. Dalam bahasa Jawa ada istilah ‘carangan’ untuk menyebut karya tambahan yang bukan asli dari Mahabarata. Inilah cerita Arjuna Wiwaha secara singkat.
Ketika itu hubungan antara Pendowo Limo dengan saudara sepupunya Kurowo sudah semakin meruncing.  Permintaan Pendowo kepada Kurowo agar Pendowo menguasai kembali negri Ngamarta dan Ngestina ditolak oleh Kurowo. Akibatnya ketegangan semakin meningkat.  Maka Pendowo lantas menyiapkan pasukan untuk menyambut perang besar di kalangan keluarga Barata alias Baroto yudo joyo binangun dalam bahasa Jawa. Arjuna mempersiapkan diri dengan bertapa di gunung Indrakila.  Konon dalam tapanya Arjuna digoda oleh beberapa bidadari tercantik dari kahyangan.  Meskipun Arjuna dikenal sebagai seorang play boy namun dia berhasil mengatasi ujian tersebut sehingga dewa mengabulkan tapanya dan dia diberi hadiah sebuah anak panah pusaka bernama Pasopati yang sangat sakti mandraguna.  Kalau panah itu ditujukan ke gunung maka gunung itu akan runtuh dan kalau ditujukan ke laut maka laut tersebut akan kering, demikian para dalang Jawa menggambarkan kesaktian pusakanya.
Setelah mendapatkan pusaka Arjuna turun gunung bermaksud akan pulang.  Ketika dalam perjalanan turun dia dikejutkan dengan keributan yang disebabkan oleh seekor celeng raksasa yang mengamuk.   Si celeng memakan tanaman di kebun penduduk dan ketika dihalau malah mengamuk sehingga jatuh banyak korban.  Melihat kedatangan Arjuna orang desa lantas meminta pertolongannya.  Sebagai seorang satria Arjuna merasa berkewajiban menolong penduduk yang sedang terancam bahaya.  Tanpa ragu dia mengambil panah pusakanya. Dibidiknya si celeng dan kesaktian panah terbukti.  Si celeng raksasa tersungkur mati seketika.  Arjuna dan penduduk datang mendekati bangkai celeng. 
Tiba tiba dari sisi lain muncul seorang satria yang membawa busur.  Dia lantas mencabut anak panah yang tertancap di badan celeng.  Semua orang terkejut.  Di badan celeng ternyata ada dua anak panah.  Arjuna juga mencabut anak panahnya dan mengatakan panahnyalah yang membunuh celeng karena lebih dekat ke jantung celeng daripada panah satria tersebut. Si satria juga berkata demikian sehingga terjadi perdebatan dan akhirnya perkelahian.
Pada awalnya perkelahian itu imbang tapi akhirnya Arjuna terdesak dan bahkan jatuh, kalah telak oleh satria itu.  Arjuna sudah tidak berdaya ketika sang satria tiba tiba berubah menjadi seorang dewa.  Arjuna menyembah dan meminta maaf.  Untunglah Arjuna diampuni dan dia bisa pulang.
Sampai di sini ada satu adegan penting yang menarik perhatian saya dari cerita ini yaitu adegan ketika anak panah Arjuna dan satria secara bersamaan mengenai dan membunuh celeng.  Kemudian mereka berdebat dan bertengkar soal panah siapa yang membunuh celeng.  Saya yakin bahwa ini adalah metafora dari si penulis bahwa keberhasilan manusia dalam mencapai cita citanya adalah kombinasi antara kehendak Tuhan dengan upaya manusia. Ngeyelnya Arjuna mewakili pandangan kaum sekuler bahwa keberhasilan manusia adalah murni karena upaya manusia.   Perkelahian yang dimenangkan oleh satria juga matafora bahwa sesakti apapun manusia tidak akan menang dengan Tuhan.  Karena itu manusia harus bersyukur, tunduk patuh kepada Tuhan.  Itulah pesan moral si penulis dalam pandangan saya.  Kebenarannya hanya Tuhan dan Empu Kanwa saja yang tahu. 
Cerita Arjuna Wiwaha ini ini menurut saya sangat indah dan mengandung banyak metafora.  Saya yakin metafora itu berisi pesan moral dari Empu Kanwa.  Karena itu saya memiliki tafsir atas bagian lain dari cerita ini yang saya tulis dalam artikel terpisah.  Jadi tunggu artikel berikut.


Friday, November 24, 2017

Wanda

Wanda

Saya sedang menulis sebuah novel dengan setting Jawa masa lalu.  Selain menggambarkan situasi politik yang menjadi latar belakang cerita itu saya juga perlu menggambarkan karakter utama dan karakter pendamping.  Kemudian saya sampai pada sebuah adegan ketika seorang tokoh pemeran pembantu sedang melakukan kegiatan pengamatan di kubu lawan.   Saya ingin menampilkan sesuatu yang membuat kejutan dengan menggambarkan tokoh antagonis ini penampilannya halus, lembut dan sopan.
Nah di sinilah saya bertemu dengan frasa ‘ekspresi wajah’ ketika akan menggambarkan pemeran antagonis yang lembut tadi.  Frasa itu adalah kombinasi satu kata asing ‘ekspresi’ yang berasal dari bahasa Inggris ‘expression’ dan satu kata asli Indonesia yaitu ‘wajah’.  Dalam bahasa Inggris ada frasa ‘facial expression’ yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘ekspresi wajah’.
Memang tidak salah mengambil atau menyerap kata asing ke dalam bahasa Indonesia.  Mungkin kata asing ini sudah sangat dipahami orang Indonesia sehingga kita tidak usah repot mencari kata asli Indonesia untuk menggantikannya.  Tapi saya ingat dalam bahasa Jawa ada sebuah kata yaitu ‘wondo’ yang artinya sama dengan frasa dalam bahasa Inggris tadi. Jadi ‘wondo’ dalam bahasa Jawa sama artinya dengan ‘facial expression’ dalam bahasa Inggris.  Bahkan sebenarnya bukan hanya ekspresi wajah tapi ekspresi keseluruhan tubuh, alias bahasa tubuh. Dalam wayang kulit Jawa ada frasa ‘Wondo keprabon’ untuk menggambarkan seorang tokoh yang sedang memakai busana kebesaran seorang raja atau petinggi kerajaan yang sedang melakukan rapat di istana. Ada lagi kata ‘wondo kaprajuritan’ yang dipakai untuk melukiskan seorang tokoh yang memakai busana perang.  ‘Wondo asmoro’ dipakai melukiskan seorang tokoh yang sedang jatuh cinta, biasanya Arjuno yang memiliki banyak istri.    
Saya lalu mengecek secara online di situs  http://kbbi.co.id/arti-kata/wanda untuk mengetahui pemakaian kata ini dalam bahasa Indonesia. Inilah yang saya temukan di sana. Arti Kata "wanda" Menurut KBBI.   wan·da Jw n 1 ciri-ciri satuan wayang yg memberikan gambaran air muka dan watak: ada beberapa -- yg tampak pd wajah Baladewa; 2 suku kata.
Jadi jelas bahwa bahasa Indonesia menyerap kata ini dari bahasa Jawa kemudian ejaan dan ucapannya diubah.  Ucapannya menjadi a seperti dalam kata ‘saya’.  Artinya juga tidak jauh berbeda namun sayang kata ini jarang dipakai dalam bahasa tulis maupun lisan. 
Karena itu saya terdorong memakai kata ‘wanda’ sebagai padanan frasa ekspresi wajah namun saya memiliki sedikit keraguan.  Saya kuatir kata ini akan menimbulkan salah tafsir di kalangan pembaca.  Mungkin mereka akan mengira wanda ini nama orang tapi konteksnya tidak cocok sehingga menimbulkan kerancuan.  Meskipun demikian saya putuskan tetap memakai kata wanda sebagai padanan frasa ekspresi wajah.  Semoga upaya saya ini akan membuat pemakaian kata wanda akan mangkin meluas. 



 


Tuesday, November 14, 2017

Petruk dadi ratu

Petruk dadi ratu (Petruk jadi raja)

Kerinduan pada akar budaya sendiri mendorong saya pergi ke Museum Wayang di kota tua untuk menonton pertunjukan wayang kulit yang diselenggarakan setiap hari minggu pagi dari jam 10.00 sampai jam 14.00. Menonton pertunjukan wayang kulit memberikan kepuasan atas kerinduan tadi. Saya juga mendapatkan jeda dari kegiatan rutin setiap hari.  Menonton wayang kulit juga memberikan pilihan lain terhadap kegiatan pergi ke mall di akhir pekan.  Variasi kegiatan ini sungguh diperlukan untuk menyegarkan kembali kreativitas saya. 
Maka pada hari minggu 12 November 2017 kemarin saya pergi ke museum wayang di kota tua Batavia.  Ketika saya membeli tiket masuk petugas pejualan tiket yang saya tanyai memberitahu bahwa cerita yang akan dimainkan berjudul ‘Petruk dadi ratu’.  Meskipun demikian ketika saya perhatikan sesudah di dalam ternyata ceritanya bukan itu.  Dalam beberapa kalimat saja saya tahu bahwa ceritanya adalah ‘Gatotkaca Lahir  atau ‘Jabang Tetuka’.  Yang kedua ini adalah nama yang diberikan kepada anak pertama Bimoseno dari istrinya yang bernama Arimbi.  Ternyata hari itu ada dua orang dalang yang tampil.  Cerita Gatotkaca dimainkan oleh seorang dalang pemula yang baru diberi kesempatan tampil.  Cerita ini menarik juga tapi saya ingin fokus pada cerita kedua yang dimainkan oleh seorang dalang yang lebih senior.
Adegan pembukaan adalah Petruk yang sedang berlari cepat lalu menabrak seorang pendeta raksasa yang ternyata bapak kandungnya sendiri. Terjadi percakapan singkat.  Petruk lantas dibantu menyembunyikan diri dari kejaran dua pihak yang sedang bertikai.  Malam itu ada seorang wanita sakti bernama Mustokoweni mencuri pusaka kerajaan Ngamarto bernama Jimat Kalimosodo.  Seorang satria bernama Priambodo mengetahuinya lalu mengejar Mustokoweni bersama Petruk yang bekerja di sana sebagai punakawan (pembantu).  Terjadi pekelahian seru antara keduanya.  Priambodo berhasil merebut Jimat Kalimosodo lalu diberikan kepada Petruk untuk diselamatkan. Priambodo lantas melanjutkan perkelahian dengan Mustokoweni. Petruk lari ke suatu tempat dan tidak segera mengembalikan jimat Kalimosodo itu ke istana Ngamarto.  Jimat Kalimosodo itu membuat Petruk menjadi sakti mandraguna tanpa tandingan.
Adegan kedua di istana kerajaan Rancangkencono.  Saat itu sedang ada rapat kabinet dipimpin sang raja yaitu Prabu Joyo sentiko didampingi patih Kumandang Garbo.  Mereka tengah membahas ambisi raja menaklukkan kahyangan para dewa.  Mendadak rapat terhenti karena ada Petruk datang. Prajurit di luar tidak mampu menghadang kehendaknya masuk ke dalam istana.  Semuanya terkejut.
Petruk berbicara dalam bahasa ngoko kepada raja Joyo sentiko. Bahasa ini adalah ragam bahasa Jawa yang dipakai di antara orang yang setara misalnya antara teman akrab, saudara kandung dll.  Tentu saja raja marah karena tamunya tidak memakai tata krama.  Raja semangkin marah ketika Petruk menasehati agar seorang raja selalu memegang teguh agama, selalu adil dan melayani rakyatnya dan selalu terbuka terhadap opini dan kritik orang lain.
Pembicaraan keduanya menjadi panas sehingga raja tidak bisa mengatasi amarahnya lalu menyerang Petruk.  Ternyata dia bukan tandingan Petruk.  Dengan mudah  Petruk melumpuhkannya  sehingga Joyo sentiko terpaksa menyerahkan tahtanya kepada Petruk.  Maka Petruk menjadi raja di Rancang kencono dengan gelar Prabu Bel geduwel beh.
Setelah menjadi raja Petruk melakukan persiapan matang lalu menyerang kerajaan Ngestina (Hastinapura).  Lagi lagi kesaktiannya terbukti. Dengan mudah dia mengalahkan pasukan Ngestina.  Semua komandan dan petinggi ditahan.  Bahkan akhirnya raja Ngestina yaitu Suyudono alias Duryudono juga ditahan di rutan.  Hanya Patih Sengkuni yang berhasil lolos.
Sengkuni yang licik lalu lari menyelamatkan diri ke Ngamarto.  Sebenarnya dia akan minta tolong dan perlindungan kepada Pendowo Limo di Ngamarto.  Namun dengan lihai dia mengatakan bahwa Prabu Bel geduwel beh yang sudah menguasai Ngestina dan bahkan memenjarakan Suyudono dan kurowo adalah ancaman serius bagi Ngamarto.  Cepat atau lambat dia pasti akan menyerang Ngamarto.
Bimoseno yang tenperamental terprovokasi oleh Sengkuni sehingga dia seketika langsung berangkat akan menyerang Prabu Bel geduwel beh.  Setelah bertemu ternyata Prabu Bel geduwel beh menyatakan bahwa dia tidak ingin menyerang Ngamarto. Dia hanya ingin menyelamatkan Ngestino dari raja yang zalim.  Bimo lalu mundur  mendengar pernyataan itu.
Adegan berikutnya adalah rapat kabinet di Ngamarto. Sidang kabinet kali ini dihadiri Prabu Kresno yang merupakan penasehat raja dan sekaligus kakak sepupu Pendowo Limo. Sang prabu Kresno menyarankan agar mengutus Semar, Bagong dan Gareng. Semar adalah bapak angkat Petruk sedangkan Bagong dan Gareng adalah saudara angkatnya.  Mereka berangkat menemui Prabu Bel geduwel beh.  Awalnya sang raja berpura pura tidak mengenali mereka.  Namun mereka mengajak bernyanyi dan bercanda seperti kebiasaan mereka selama ini.  Tidak lama kemudian Prabu Bel geduwel beh berubah ujud, kembali menjadi Petruk.
Kalau kita menonton wayang dengan ekspektasi seperti menonton film Hollywood maka saya jamin anda pasti akan kecewa.   Alur ceritanya sangat datar.  Tidak ada kejutan. Tidak ada konflik seru.  Tidak ada alur berliku. Tidak ada misteri.  Tidak ada jalinan asmara.  Lalu apa yang ditawarkan oleh cerita ini?
Lakon ‘Petruk dadi ratu’  adalah lakon carangan, artinya dia adalah karya penulis Indonesia. Dia bukan bagian dari cerita asli Mahabarata meskipun  setting dan karakternya memang dari cerita Mahabarata.  Tokoh utamanya yang bernama Petruk adalah ciptaan penulis atau dalang Indonesia. Sayang sekali si penulis tidak mengungkapkan jati dirinya dengan jelas dalam sebuah kitab. Namun dari bahasanya diperkirakan lakon ini diciptakan di abad 19 di Yogyakarta.  Keberadaan tokoh Bagong menguatkan dugaan bahwa dia disusun di Yogyakarta karena konon Bagong tidak dikenal di Surakarta sebelum pemerintahan Sunan PB X.
Banyak orang meyakini kalau cerita ini adalah satire tentang seorang pemimpin yang tidak kompeten sehingga dia menyebabkan kekacauan dengan policynya yang konyol.  Dalam cerita itu memang Petruk menjadi sakti karena memegang Jimat Kalimosodo, bukan karena faktor yang ada dalam dirinya. Jadi mungkin maksudnya tidak ada kompetensi yang ada di dalam dirinya.  Melihat fisik Petruk yang tinggi dan berhidung mancung mengingatkan saya pada penguasa Nusantara di abad 19 yaitu Belanda.  Barangkali penulis mengecam penguasa saat itu yang menyebabkan kekacauan dan penderitaan rakyat.  Maklum saat itu penguasanya penjajah, bukan pemimpin.  Pemimpin adalah penguasa yang memajukan rakyatnya, bekerja untuk rakyatnya. Sedangkan penjajah menguasai untuk mengeruk kekayaan negri demi kepentingan kliknya sendiri. Pihak yang dianggap akan mengganggu kepentingannya pasti akan disikat.
Namun ada juga tafsir lain yang menganggap Petruk di sini mewakili sosok pemimpin ideal yang berasal dari rakyat dan bekerja untuk rakyat dengan menyerang penguasa zalim di Rancang kencono dan Ngestina.  Setelah angkara murka disirnakan dia kembali menjadi rakyat biasa menyatu lagi dengan rakyat. Jadi menurut tafsir ini kisah ini adalah ungkapan kerinduan penulis kepada sosok pemimpin ideal yang akan membersihkan negri dari penguasa korup dan tidak adil.
Kalau melihat tanggapan masyarakat dengan munculnya berbagai tafsir dan masih maraknya pementasan lakon ini maka bisa dikatakan lakon ini berhasil paling tidak dalam memancing bermacam reaksi.  Di museum Fatahillah bahkan ada sebuah lukisan dengan tema Petruk dadi ratu ini. Apapun tafsir orang maka hal itu sah sah saja karena memang karya sastra terbuka untuk banyak tafsir.  Silahkan saja membuat tafsiran sendiri. Siapa tahu tafsiran anda akan membuka pemikiran baru atau tanggapan baru yang memicu pemahaman baru atau bahkan tindakan baru lagi. 



Wednesday, October 25, 2017

Character building untuk UMKM.

Character building untuk umkm

Selain pengalaman berbelanja bakpia di pasar Beringharjo dan toko di Malioboro kemarin saya juga sering mendapat cerita miring tentang umkm di Yogyakarta.  Cerita terbaru saya dapatkan dari pengemudi taksi yang saya naiki dari Magelang ke Yogyakarta hari Minggu kemarin.  Dalam perjalanan Magelang – Yogya dia banyak bercerita tentang Yogya meskipun saya katakan bahwa saya bukan orang asing di Yogya karena pernah kuliah dan bekerja di Yogya dan bahkan sampai sekarang saya masih sering berkunjung ke sana.  Dia wanti wanti agar saya hati hati kalau naik becak di Malioboro.  Katanya di sana banyak tukang becak yang menawarkan tarip sangat murah cuma lima ribu rupiah untuk mengantar berbelanja, tapi nanti kalau tidak belanja atau tidak banyak belanjanya tukang becak itu akan menagih lima puluh ribu rupiah. 
Cerita keduanya adalah tentang pedagang makanan lesehan di Malioboro. Katanya belum lama ini ada orang yang makan di sana lalu ditagih puluhan ribu rupiah, jauh di atas harga normalnya. Orang itu lalu memposting di medsos sehingga jadi heboh.  Untunglah sekarang pihak yang berwenang sudah mengambil tindakan. Sekarang semua pedagang makanan diwajibkan menuliskan harga di tempat yang jelas terlihat dan mentaatinya. Lebih jauh pengemudi taksi ini menyarankan saya untuk menanyakan dulu harga makanan yang aka dipesan. Kalau nanti dimark up dia sarankan saya melaporkan ke dinas pariwisata agar diambil tindakan.
Malamnya saya makan mi Jawa di alun alun utara.  Selesai makan saya mau jalan jalan ke Malioboro.  Saya mencoba menawar becak. Saya katakan saya akan ke sebuah hotel di Malioboro. Si tukang becak meminta harga empatpuluh ribu rupiah.  Harga yang sangat tinggi untuk jarak yang sangat dekat.  Jalan kakipun belum lelah dari alun alun utara ke Malioboro.  Saking mendongkolnya saya tidak menjawab dan langsung melangkah pergi.
Pengalaman saya dan cerita itu sudah saya dengar sejak saya kuliah di dasawarsa delapan puluhan.  Kalau benar cerita itu masih terjadi, artinya ada masalah besar pada mentalitas umkm kita.  Saya memakai kata ‘kita’ karena saya yakin mentalitas buruk itu tidak hanya ada di Malioboro tapi di banyak tempat di Indonesia. Saya jadi ingat buku Prof Kuncaraningrat tentang mentalitas (dulu beliau menulisnya masih mentalitet) orang Indonesia. Kata beliau orang Indonesia memiliki mentalitas jalan pintas.  Maunya untung tapi tidak mau kerja kerasnya.  Dalam bahasa Jawa ada ungkapan ‘Gelem nangkane ora gelem pulute’ yang artinya mau nangkanya (buah nangka) tapi tidak mau getahnya.  Jadi artinya mau enaknya tapi tidka mau kerja kerasnya.
Cerita itu menunjukkan mentalitas itu masih ada. Waktu serasa berhenti, tidak membawa perubahan dalam mentalitas.  Menurut nabi Muhammad itulah orang yang merugi, yaitu orang yang tidak mangkin membaik bersama berlalunya waktu.
 Karena itu saya menghimbau beberapa pihak agar segera ambil tindakan. Salah satunya adalah dengan membangun karakter (character building).  Karakter seperti apa yang dibutuhkan agar mereka mampu mengantisipasi perkembangan jaman?  Jawaban seriusnya biarlah dirumuskan para winasis , para pakar. Namun paling tidak ada beberapa kualitas yang harus dimiliki. Pertama mereka harus melihat pembeli adalah pelanggan potensial, bukan mangsa.  Pembeli yang dilayani dengan baik, tidak ditipu, sehingga dia puas maka ada kemungkinan akan membeli lagi alias  menjadi pelanggan. Dan bahkan ada kemungkinan dia akan mengabarkan kepada teman temannya dan keluarganya. Dengan kata lain dia akan memberi hadiah iklan gratis. Dengan demikian basis pelanggan akan meluas. Keduanya harus jujur, jangan menipu pembeli atau konsumen.  Ketiganya harus menyadari bahwa keuntungan atau laba atau penghasilan adalah hasil sebuah proses yang benar dan baik.  Fokuskan saja upaya pada membaikkan proses maka hasil baikpun insya Allah akan datang.  Keempat kesadaran sosial, maksud saya agar mereka memahami bahwa perbuatan mereka memiliki dampak sosial. Dampak pada lingkungan sosial mereka, kepada teman teman mereka.  Kalau ada seorang tukang becak berbuat culas, curang maka akibatnya semua tukang becak akan dicurigai oleh konsumennya. Akibat lebih jauh lagi konsumen memilih ojek online yang ada kepastian harga. Sebaliknya kalau ada yang bekerja baik maka akan berddampak baik pada seluruh lingkungan.  Seorang pelanggan yang puas akan merekomendasikan becak atau lesehan yang lain juga.
Pertanyaannya tindakan apa yang harus dilakukan dan siapa yang akan melakukan?  Pertama kali yang terbayang di pikiran saya adalah program training berkesinambungan yang dipadukan dengan pengajian.  Jadi pelaksananya mungkin dkm atau ormas atau lsm keagamaan yang bekerjasama dengan dinas pariwisata atau instansi lain.
Bentuknya mungkin semacam ceramah motivasi untuk menanamkan nilai nilai positif di atas tadi.  Perlunya pendekatan keagamaan adalah untuk menanamkan kesadaran bahwa bekerja baik adalah ibadah. Bekerja adalah untuk Allah jadi tidak boleh dilakukan dengan cara tidak jujur, menipu pelanggan atau memeras pelanggan. 
Masyarakat Yogya masih kental dipengaruhi oleh budaya Jawa. Masyarakatnya masih bersifat paternalistik dan feodalis. Karena itu sangat penting melibatkan tokoh lokal. Tokoh terkuat adalah Sri Sultan sendiri.  Jadi training itu idealnya paling tidak dibuka oleh beliau.  Dawuhnya masih sangat didengarkan oleh rakyat Yogya. Training itu mengutamakan pembinaan mental di tahap awal barulah di tahap berikut bisa ditambahi pembinana kerampilan teknis.  Karena pembinaan mental bukan perkara sepele maka sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan, berjangka panjang.  Paling tidak selama lima tahun masa kerja pemerintahan daerah.  Syukur periode selanjutnya diperpanjang lagi menjadi training abadi. Pesertanya diundang terus selama itu dan dipantau secara berkala perkembangannya.
Tulisan ini memang masih lebih layak disebut impian daripada program kerja yang sudah bisa dilaksanakan.  Namun bukankah semua capaian diawali dari impian ?  Jika mimpi saja tidak pernah, bagaimana mungkin kita mencapai cita cita?  Marilah satukan tekad, satukan langkah untuk membantu umkm.  Semoga ada pihak yang tersentuh dan bergerak.
Yogyakarta, 26 Oktober 2017